Selamat pagi. Hari ini, aku membaca buku Kentrung Sunan Drajat karya Rasmian. Buku ini membahas tentang kentrung di Lamongan. Kentrung Sunan Drajat ini diperkenalkan oleh Ahmad Khusairi pada tahun 1991.
Ahmad Khusairi menamakan Kentrung Sunan Drajat karena diambil dari nama wali yang menyebarkan agama Islam di Lamongan, yaitu Sunan Drajat. Hal ini dikarenakan Sunan Drajat pada saat berdakwah sering membaca macapat yang diiringi musik rebana menyerupai kentrung.
Kentrung Sunan Drajat yang dipakai Ahmad Khusairi adalah percampuran dua teknik kentrung, yaitu Mbah Marko dan Mbah Hasbi. Cerita kentrung yang diambil adalah nukilan cerita kitab Ambiyak gaya Mbah Hasbi yang diceritakan seperti macapatan. Sementara itu, iringan musik rebana dilagukan seperti gaya Mbah Marko. Kentrung ini ia jalani sendiri. Ia berperan sebagai manajer, pemain musik sekaligus sebagai dalang. Bahkan, di beberapa pementasan ia berangkat sendiri tanpa pengawalan dan sopir.
Bahasa Kentrung Sunan Drajat adalah bahasa Jawa. Pemakaian undak usuk basa tersebut terlihat pada penggunaan bahasa ngoko dan krama. Bahasa ngoko merupakan bahasa yang digunakan oleh penutur yang lawan tuturnya dianggap akrab atau sejajar, sedangkan bahasa krama merupakan penggunaan bahasa yang dianggap lebih tinggi. Bahasa krama digunakan jika lawan tuturnya dianggap sebagai orang tua atau orang yang dihormati. Penggunaan bahasa Arab banyak dipakai oleh dalang ketika salam pembukaan, doa penutup, mengutip Al-Quran dan hadist untuk fungsi dakwah.
Cerita yang dibawakan biasanya cerita-cerita tentang walisongo. Misalnya, perjuangan Raden Syarifudin alias Sunan Drajat dalam menyebarkan agama di Lamongan, perjuangan santri Sunan Ampel yang berjumlah 10 orang yang dipimpin Hasamudin dalam menyebarkan Islam di Lamongan. (*)
Editor : Iwan Iwe

















