SITUBONDO - Sekitar 1.500 jiwa warga Desa Patemon, Kecamatan Jatibanteng, Kabupaten Situbondo, terisolir total setelah jembatan limpas Kali Wringin yang menjadi satu-satunya akses utama menuju desa tersebut roboh diterjang banjir, Rabu (21/1/2026).
Jembatan yang berada di Dusun Krajan, Desa Patemon, ambrol akibat derasnya arus banjir yang membawa material bebatuan. Tidak hanya jembatan yang putus, kondisi jalan penghubung juga rusak paah, sehingga warga sama sekali tidak memiliki akses keluar-masuk wilayah.
Putusnya akses tersebut membuat aktivitas warga lumpuh dan perekonomian desa terganggu. Dalam kondisi darurat, warga terpaksa menggotong sepeda motor menyeberangi sungai demi tetap beraktivitas. Warga juga membangun jembatan darurat dari batang kayu dan bambu secara swadaya.
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo yang meninjau langsung lokasi menyebut kondisi warga tidak manusiawi, karena desa berada dalam keadaan terisolasi total. Menurutnya, jembatan putus dan jalan rusak menyebabkan wilayah tersebut sama sekali tidak memiliki akses.
"Saya menyusuri sungai jalan kaki karena tidak ada akses. Jembatan putus, jalannya hancur, tidak ada akses sama sekali. Ada 1.500 jiwa yang terdampak," ujar Bupati, Sabtu (24/1/2026) sore.
Untuk penanganan jangka pendek, Pemerintah Kabupaten Situbondo telah menyalurkan bantuan logistik berupa sembako guna memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak. Sementara untuk penanganan jangka panjang, pemerintah daerah berencana menganggarkan perbaikan infrastruktur, terutama pembangunan kembali jembatan dan jalan penghubung.
"Kami akan mohon bantuan ke pemerintah provinsi maupun pusat agar penanganan ini bisa segera dilaksanakan," ujar Bupati Rio.
Berdasarkan data Pusdalops BPBD Situbondo, terdapat tiga jembatan yang ambruk di Kecamatan Jatibanteng akibat banjir. Selain jembatan limpas Kali Wringin di Desa Patemon, dua jembatan lainnya dilaporkan ambruk di Dusun Krajan dan Dusun Tegal Barat, Desa Wringin Anom.
Warga berharap perbaikan jembatan dan jalan penghubung segera direalisasikan agar akses utama desa kembali normal dan aktivitas masyarakat dapat pulih. (*)
Editor : A. Ramadhan

















