Menu
Pencarian

Jalan Mentoro–Arjosari Rusak Parah, Aktivitas Tambang Pasir Diduga Jadi Pemicu

JTV Pacitan - Kamis, 12 Februari 2026 13:13
Jalan Mentoro–Arjosari Rusak Parah, Aktivitas Tambang Pasir Diduga Jadi Pemicu
Kondisi ruas jalan Mentoro-Arjosari yang rusak dan membahayakan pengguna jalan. (Foto:Edwin Adji)

PACITAN - Ruas jalan Mentoro–Arjosari, Kabupaten Pacitan, kembali menuai sorotan. Kerusakan yang terjadi hampir di sepanjang jalur itu kian membahayakan pengguna jalan, terutama saat musim hujan. Lubang-lubang menganga tertutup genangan air, memicu kecelakaan dan keluhan warga.

Kondisi terparah berada di wilayah Desa Purworejo. Aspal mengelupas, permukaan jalan bergelombang, dan lubang dengan berbagai ukuran tersebar di sejumlah titik. Saat hujan turun, lubang tak lagi terlihat karena tertutup air, menjebak pengendara roda dua maupun roda empat.

Warga menyebut kerusakan jalan kabupaten tersebut sudah berlangsung sekitar dua tahun terakhir. Meski sempat dilakukan perbaikan, penanganannya dinilai hanya bersifat tambal sulam. Akibatnya, kerusakan kembali muncul bahkan dalam waktu relatif singkat.

“Sudah lama rusak. Dulu pernah diperbaiki, tapi hanya ditambal. Sekarang rusak lagi, malah tambah parah,” ujar salah satu warga setempat.

Baca Juga :   Nyaris 17 Ribu PBI JK Pacitan Nonaktif, Pemerintah Siap Tanggung Dampaknya?

Diduga, kerusakan jalan diperparah oleh aktivitas kendaraan bermuatan pasir dari penambangan rakyat di Desa Purworejo. Truk-truk pengangkut pasir disebut setiap hari melintasi ruas tersebut dengan kondisi muatan basah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Pacitan, Suparlan, membenarkan adanya aktivitas penambangan rakyat di wilayah itu. “Itu memang ada penambangan rakyat yang menggunakan sedotan diesel, kemudian dibawa keluar dalam kondisi basah menggunakan kendaraan setiap hari,” jelas Suparlan.

Menurutnya, kondisi pasir yang masih basah saat diangkut membuat permukaan jalan menjadi jenuh air. Ketika dilintasi kendaraan bermuatan berat secara terus-menerus, daya tahan aspal menurun dan kerusakan terjadi lebih cepat.

Baca Juga :   Nasib Petani Gula Kelapa Pacitan di Tengah Euforia Ekspor Aren

“Dengan aktivitas keluar masuk kendaraan bermuatan pasir basah itu menyebabkan permukaan jalan menjadi jenuh. Ketika ada tekanan berat, jalan cepat rusak,” tegasnya.

PUPR, lanjut Suparlan, telah beberapa kali melakukan koordinasi dengan para penambang untuk menyamakan persepsi dan mencari solusi agar aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa merusak infrastruktur publik.

Namun hingga kini, kerusakan masih terjadi dan dikeluhkan masyarakat. Warga berharap pemerintah tidak lagi hanya melakukan tambal sulam, melainkan perbaikan menyeluruh dengan penguatan konstruksi jalan, sekaligus penataan aktivitas tambang. (Edwin Adji)

Editor : JTV Pacitan






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.