MALANG - Menjelang bulan suci Ramadan, sejumlah destinasi wisata religi mulai dipadati pengunjung. Salah satu yang kembali ramai diperbincangkan adalah Masjid Tiban yang berlokasi di Jalan KH Wachid Hasyim, Jalan Anggur Nomor 17, Sananrejo, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
Masjid yang berada di kompleks Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah ini dikenal dengan arsitekturnya yang megah dan unik. Bangunan setinggi 10 lantai tersebut memadukan gaya arsitektur Timur Tengah, Mesir, India, dan China dengan dominasi warna biru dan putih serta ribuan ornamen detail yang menghiasi hampir seluruh sudut bangunan.
Masjid Tiban kerap dijuluki sebagai “masjid 1.000 pintu” karena banyaknya lorong, pintu, dan akses ruangan yang saling terhubung. Julukan itu semakin menguatkan kesan megah sekaligus misterius bagi para pengunjung yang datang, terutama menjelang Ramadan ketika minat wisata religi meningkat.
Secara historis, pembangunan masjid ini telah dimulai sejak 1963 oleh pengasuh pesantren, Romo Kiai Ahmad. Namun, pembangunan fisik secara intensif dilakukan sejak 1987 oleh para santri dan jemaah secara swadaya. Seluruh prosesnya dilakukan tanpa melibatkan arsitek profesional. Desain bangunan, menurut penuturan yang berkembang di lingkungan pesantren, diperoleh melalui hasil istikharah KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh.
Bangunan masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Setiap lantai memiliki kegunaan berbeda. Lantai satu dan dua difungsikan sebagai area istirahat, loket, ruang makan, dan dapur. Di lantai tiga, pengunjung dapat menemukan musala, akuarium, hingga kebun binatang mini yang menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak.
Memasuki lantai empat, area tersebut digunakan sebagai tempat tinggal keluarga kiai. Lantai lima difungsikan untuk kebutuhan santri. Sementara itu, lantai enam, tujuh, dan delapan diisi dengan toko dan kios suvenir pesantren yang menjual berbagai buah tangan, mulai dari aksesori religi hingga makanan khas.
Adapun lantai sembilan dan sepuluh menjadi spot favorit pengunjung. Dari ketinggian tersebut, pengunjung dapat menyaksikan pemandangan lereng gunung, gua buatan, serta panorama alam sekitar Turen. Banyak wisatawan memanfaatkan area ini untuk berfoto atau sekadar menikmati suasana tenang menjelang waktu salat.
Daya tarik Masjid Tiban juga tidak lepas dari mitos yang beredar di masyarakat. Sebagian orang meyakini bangunan ini didirikan dalam satu malam oleh bangsa jin. Namun, pihak pesantren menegaskan bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap oleh santri dan masyarakat sekitar melalui gotong royong.
Meski akses menuju lokasi cukup menantang karena jalan yang relatif sempit, hal itu tidak menyurutkan minat pengunjung. Kendaraan roda empat harus berjalan perlahan saat memasuki kawasan tersebut, terutama ketika arus kunjungan meningkat menjelang akhir pekan atau menjelang Ramadan.
Salah satu pengunjung, Laila (28), warga Surabaya, mengaku sengaja datang bersama keluarganya untuk wisata religi sebelum memasuki bulan puasa.
“Saya sudah lama ingin ke sini karena sering lihat di media sosial. Ternyata memang megah sekali. Detailnya banyak banget dan setiap lantai punya fungsi berbeda,” ujarnya saat ditemui di area lantai sembilan.
Menurut Laila, suasana religius di dalam kompleks pesantren juga menjadi pengalaman tersendiri. “Karena ini di dalam pesantren, kita jadi lebih menjaga sikap dan pakaian. Rasanya beda dibanding wisata biasa. Lebih tenang dan khusyuk,” katanya.
Ia juga menilai Masjid Tiban cocok menjadi destinasi wisata religi keluarga. “Anak-anak juga senang karena ada akuarium dan mini zoo. Jadi bukan cuma ibadah, tapi juga edukasi,” tambahnya.
Pihak pengelola mengimbau seluruh pengunjung untuk berpakaian sopan dan menjaga etika selama berada di area pesantren. Aturan tersebut diberlakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para santri dan keluarga pengasuh pesantren yang tinggal di dalam kompleks.
Menjelang Ramadan, kunjungan diperkirakan terus meningkat seiring tradisi masyarakat yang memanfaatkan waktu sebelum puasa untuk berziarah dan berwisata religi. Dengan keunikan arsitektur, nilai sejarah, serta nuansa spiritual yang kental, Masjid Tiban di Turen menjadi salah satu pilihan destinasi yang menarik bagi wisatawan muslim, baik dari dalam maupun luar daerah.
Di tengah berkembangnya destinasi wisata modern, keberadaan Masjid Tiban menunjukkan bahwa wisata religi tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Bukan hanya sebagai lokasi berfoto, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan penguatan spiritual menjelang datangnya bulan suci. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe

















