Menu
Pencarian

Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Probolinggo Terpaksa Rumahkan Karyawan

Farid Fahlevi - Selasa, 9 Juni 2026 10:00
Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Probolinggo Terpaksa Rumahkan Karyawan
Kondisi peternakan ayam petelur milik Shulton Famimudin di Desa/ Kecamatan Leces, Kabupaten Probolinggo. (Foto: Farid Fahlevi)

PROBOLINGGO - Peternak ayam petelur di Kabupaten Probolinggo tengah menghadapi masa sulit. Dalam dua bulan terakhir, harga telur ayam di tingkat peternak terus merosot hingga berada di kisaran Rp21 ribu sampai Rp22 ribu per kilogram. Di sisi lain, harga pakan justru mengalami kenaikan sehingga menekan keuntungan para peternak.

Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Shulton Famimudin (31), pemilik peternakan ayam petelur di Dusun Krajan, Desa Leces, Kabupaten Probolinggo. Aktivitas di peternakannya kini tidak lagi seramai beberapa bulan lalu karena produksi dan jumlah tenaga kerja terpaksa dikurangi demi menekan biaya operasional.

“Sudah sekitar dua bulan harga telur terus rendah. Sekarang hanya berkisar Rp21 ribu sampai Rp22 ribu per kilogram. Padahal biaya produksi terus naik,” kata Shulton saat ditemui di peternakannya, Selasa (9/6/2026).

Akibat kondisi tersebut, Shulton terpaksa merumahkan empat pekerja dari total sembilan orang yang sebelumnya bekerja di peternakannya.

“Terpaksa kami kurangi tenaga kerja. Dari sembilan pekerja, sekarang tinggal lima orang yang masih bekerja. Kalau dipertahankan semua, biaya operasional semakin berat,” ujarnya.

Menurut Shulton, persoalan tidak hanya datang dari rendahnya harga telur. Harga pakan, khususnya konsentrat, justru mengalami kenaikan karena sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor.

“Harga pakan terus naik. Konsentrat yang kami beli sekarang lebih mahal dibanding beberapa bulan lalu. Kenaikan kurs dolar juga berpengaruh karena bahan bakunya banyak yang impor,” ungkapnya.

Ia mengaku saat ini hanya memelihara sekitar 6.000 ekor ayam petelur. Jumlah tersebut jauh berkurang dibandingkan sebelumnya yang mencapai 15.000 ekor.

“Saya tidak berani menambah populasi ayam. Risiko terlalu besar. Harga telur rendah, sementara pakan mahal. Kalau memaksakan menambah bibit, takut kerugiannya semakin besar,” jelas Shulton.

Dari 6.000 ekor ayam petelur yang dimiliki, rata-rata produksi telur mencapai sekitar tiga kuintal per hari. Dengan harga jual Rp22 ribu per kilogram, pendapatan kotor yang diperoleh sekitar Rp6 juta setiap hari.

“Kalau dihitung pendapatan kotor memang sekitar enam juta rupiah. Tapi biaya produksi mulai pakan, listrik, obat-obatan sampai gaji pekerja bisa mencapai lima juta rupiah. Margin yang tersisa sangat tipis,” katanya.

Beban usaha semakin berat karena peternak juga harus memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman ke perbankan.

“Sudah sekitar tiga bulan terakhir saya kesulitan membayar cicilan bank. Pendapatan yang ada lebih banyak digunakan untuk menjaga usaha tetap berjalan,” tuturnya.

Shulton menduga anjloknya harga telur dipicu oleh melimpahnya pasokan telur di pasar akibat meningkatnya populasi ayam petelur di berbagai daerah.

“Sekarang banyak perusahaan besar membangun kandang dengan kapasitas ratusan ribu ekor ayam. Produksi meningkat sangat besar sehingga pasokan berlimpah dan harga jatuh,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat peternak skala kecil semakin sulit bersaing dengan perusahaan besar yang memiliki modal kuat dan biaya produksi lebih efisien.

“Kalau perusahaan besar masih bisa bertahan karena skala usahanya besar. Tapi peternak kecil seperti kami sangat terdampak ketika harga jatuh dalam waktu lama,” katanya.

Shulton berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur dan membantu menekan biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan.

“Kami berharap pemerintah bisa menjaga harga telur di kisaran Rp26 ribu sampai Rp27 ribu per kilogram. Dengan harga itu peternak masih bisa mendapatkan keuntungan yang layak,” ujarnya.

Selain itu, ia meminta pemerintah mencarikan solusi terhadap tingginya harga pakan yang selama ini menjadi keluhan utama peternak.

“Kalau harga pakan bisa ditekan dan harga telur kembali stabil, peternak tentu bisa bertahan. Yang kami inginkan bukan untung besar, tapi usaha tetap berjalan dan pekerja bisa tetap bekerja,” pungkasnya.

Para peternak berharap pemerintah pusat maupun daerah segera turun tangan mengatasi ketidakseimbangan antara harga jual telur dan biaya produksi. Jika kondisi ini terus berlangsung, dikhawatirkan semakin banyak peternak yang mengurangi populasi ternak bahkan menutup usahanya karena tidak mampu menanggung kerugian berkepanjangan. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.