MAGETAN - Peternak ayam petelur di Kabupaten Magetan menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga telur dalam lebih dari dua bulan terakhir. Di tengah harga jual yang terus merosot, biaya produksi, terutama harga pakan ternak, justru tetap tinggi sehingga peternak terpaksa menjual telur di bawah biaya pokok produksi (BPP).
Kondisi tersebut dialami Nur Muhammad Ali, peternak ayam petelur di Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Magetan. Menurutnya, ketimpangan antara harga jual telur dan biaya produksi membuat usaha peternakan rakyat semakin sulit bertahan.
Saat ini, harga telur di tingkat peternak hanya berkisar Rp19.000 per kilogram. Sementara itu, dengan harga pakan komplit sekitar Rp7.300 per kilogram, harga jual telur yang dinilai layak agar peternak tidak merugi seharusnya berada di kisaran Rp25.250 per kilogram.
Selisih harga yang mencapai lebih dari Rp6.000 per kilogram membuat peternak harus menanggung kerugian setiap hari. Meski aktivitas produksi masih berjalan, keuntungan yang minim bahkan merugi membuat peternak kesulitan mengembangkan usaha.
Baca Juga : Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Probolinggo Terpaksa Rumahkan Karyawan
Nur Muhammad Ali mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung lebih dari dua bulan tanpa adanya kenaikan harga yang berarti.
"Saat ini harga telur hanya sekitar Rp19 ribu per kilogram, sedangkan biaya produksi mencapai sekitar Rp25.250 per kilogram. Artinya, setiap hari kami menjual telur dalam kondisi rugi. Kalau situasi seperti ini terus berlangsung, peternak rakyat akan semakin berat untuk bertahan," ujar Nur Muhammad Ali.
Menurutnya, tingginya harga pakan menjadi beban terbesar dalam biaya produksi. Akibatnya, banyak peternak mulai menunda peremajaan ayam petelur karena keterbatasan modal.
"Operasional masih kami jalankan, tetapi untuk peremajaan ayam sudah mulai kesulitan. Kalau harga telur tidak segera membaik, usaha peternakan rakyat bisa terancam berhenti," tambahnya.
Ali berharap pemerintah pusat segera merealisasikan kebijakan stabilisasi harga telur dan memperkuat penyerapan hasil produksi peternak agar harga di tingkat peternak kembali membaik.
Menurutnya, kebijakan tersebut perlu segera diterapkan hingga tingkat daerah agar memberikan dampak nyata bagi peternak rakyat yang saat ini terus menanggung kerugian.
Para peternak juga berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menjaga keseimbangan antara harga jual telur dan biaya produksi. Apabila kondisi ini terus berlanjut, mereka khawatir semakin banyak peternakan rakyat yang gulung tikar akibat tidak mampu menanggung beban operasional yang terus meningkat.
Editor : JTV Madiun



















