PONOROGO - Kenaikan harga kedelai membuat pengrajin tempe harus memutar otak agar usaha mereka tetap berjalan. Salah satunya dengan mengurangi ukuran produk, meski berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.
Kenaikan harga kedelai impor mulai dirasakan para pengrajin tempe di Ponorogo. Seperti yang dialami Hadi Prayitno, warga Dukuh Kledang, Desa Ronosentanan, Kecamatan Siman.
Ia menyebut harga kedelai yang sebelumnya sekitar Rp10 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp10.500 per kilogram. Meski demikian, ia tetap memilih kedelai impor karena dinilai memiliki kualitas yang lebih stabil untuk produksi tempe.
Tak hanya kedelai, biaya produksi lain juga ikut meningkat. Harga plastik pembungkus misalnya, naik dari Rp30 ribu menjadi Rp50 ribu per roll.
Untuk menekan kerugian, Hadi terpaksa mengurangi berat tempe yang dijual, dari sebelumnya 380 gram menjadi 350 gram per potong.
“Terpaksa kami kurangi ukuran tempe, karena kalau harga dinaikkan takutnya pembeli semakin berkurang,” ujar Hadi.
Namun langkah tersebut justru berdampak pada penurunan daya beli konsumen. Hadi mengaku penjualan tempe buatannya ikut merosot sejak harga bahan baku naik dan ukuran produk diperkecil.
Sebelumnya, ia mampu mengolah hingga tiga kuintal kedelai dalam satu periode produksi. Kini, jumlah tersebut turun menjadi dua kuintal saja.
Kondisi ini membuat para pengrajin berharap adanya stabilitas harga bahan baku agar usaha mereka dapat terus bertahan di tengah tekanan biaya produksi.
Editor : JTV Madiun



















