NGAWI - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kemarau ekstrem yang memicu kesulitan air bersih. Sebagai langkah mitigasi, BPBD telah menyiagakan sejumlah sarana dan prasarana pendukung di posko kebencanaan pada Kamis (16/7/2026).
Berdasarkan hasil pemetaan terbaru, masih terdapat 11 desa di 5 kecamatan di wilayah Kabupaten Ngawi yang masuk dalam kategori rawan krisis air bersih. Meski program penyediaan air bersih seperti Pamsimas dari pemerintah daerah terus berjalan dan membantu menurunkan potensi ancaman kekeringan, siaga logistik tetap menjadi prioritas utama.
"Untuk menghadapi kemarau saat ini, kita telah menyiapkan armada untuk dropping air, itu ada 9 buah. Kemudian juga ada tandon, 32 buah," ujar Kepala Pelaksana BPBD Ngawi, Prila Yudha Putra.
Hingga pertengahan Juli ini, BPBD Ngawi mengonfirmasi belum ada satu pun desa yang secara resmi mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih. Kendati demikian, pemantauan ketat secara berkala terus dilakukan melalui sinergi dengan petugas di tingkat kecamatan hingga desa.
Baca Juga : Penjualan AC dan TV di Jatim Naik Signifikan Saat Musim Kemarau dan Piala Dunia
"Sampai dengan sekarang masih belum ada permintaan air bersih. Hasil pantauan teman-teman di lapangan serta koordinasi kami dengan dinas terkait, Koramil, Babinsa, hingga Bhabinkamtibmas menunjukkan belum ada permintaan masuk," jelasnya.
Guna mempercepat penanganan apabila kondisi di lapangan tiba-tiba memburuk, BPBD Ngawi memangkas jalur birokrasi agar warga terdampak bisa mendapatkan pasokan air bersih secepat mungkin tanpa terhambat urusan administratif yang rumit.
"Warga atau pihak desa yang membutuhkan cukup telepon saja ke kami, nanti kami bisa langsung bantu mengirimkan dropping air. Untuk surat administrasi permohonannya bisa menyusul belakangan, tidak masalah," pungkas Prila.
Baca Juga : Musim Kemarau, Puluhan Rumah di Bukit Kapur Ngawi Kesulitan Air Bersih
Editor : Iwan Iwe



















