MOJOKERTO - Keindahan alam Jawa Timur terus menjadi magnet bagi para pencinta aktivitas luar ruang. Salah satu tren yang tetap diminati adalah pendakian gunung, terutama di kalangan anak muda. Memasuki bulan Ramadan, para pendaki mulai mencari gunung dengan jalur relatif ringan agar aktivitas fisik tetap terjaga tanpa menguras stamina secara berlebihan.
Salah satu opsi favorit adalah Gunung Bekel. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.250 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dikenal memiliki jalur yang ramah bagi pemula, khususnya melalui jalur Petirtaan Jolotundo di wilayah Trawas, Mojokerto.
Jalur Singkat dan Sistem 'Tektok'
Selain medannya yang tidak terlalu ekstrem, pendakian ke Gunung Bekel dapat dilakukan dengan sistem tektok atau naik-turun dalam satu hari tanpa menginap. Waktu tempuh dari pos Jolotundo menuju puncak diperkirakan sekitar tiga hingga empat jam, tergantung pada kondisi fisik pendaki dan faktor cuaca.
Jalur pendakian Gunung Bekel menawarkan kombinasi unik antara panorama alam dan situs sejarah. Di sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati kawasan hutan, vegetasi ilalang, serta beberapa peninggalan cagar budaya seperti Candi Bayi, Candi Putri, Candi Pura, dan Candi Naga. Keberadaan situs-situs purbakala ini menjadi ciri khas yang membedakan Gunung Bekel dengan gunung lain berketinggian serupa.
Persiapan dan Keselamatan
Meski tergolong ramah pemula, pendaki tetap diimbau mempersiapkan perlengkapan dan kondisi fisik secara optimal. Pengunjung diwajibkan melakukan registrasi di pos awal pendakian. Beberapa pos juga tersedia di sepanjang jalur sebagai tempat beristirahat sekaligus titik pemantauan keamanan.
Bagi pendaki yang ingin bermalam, tersedia area perkemahan (camping ground) di sekitar Pos 4. Dari titik ini, jalur mulai menanjak lebih curam menuju puncak. Pendaki disarankan mengatur ritme perjalanan serta memastikan kecukupan logistik sebelum melanjutkan pendakian.
Dari puncak, pendaki dapat menyaksikan panorama megah Gunung Welirang serta kawasan Pegunungan Anjasmoro. Namun, mendaki saat Ramadan memerlukan perhatian khusus, terutama bagi yang menjalankan ibadah puasa. Pemilihan waktu pendakian, kecukupan asupan cairan saat berbuka/sahur, serta kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem menjadi kunci keselamatan.
“Meskipun jalurnya mudah ditempuh dan cocok bagi pemula, mendaki saat berpuasa tetap berisiko tinggi karena rentan dehidrasi. Jadi, mendaki di bulan puasa sebaiknya dilakukan oleh mereka yang sudah berpengalaman atau memiliki manajemen stamina yang baik,” jelas Nizaria, salah satu pendaki di Gunung Bekel.
Dengan karakter jalur yang singkat dan akses yang mudah, Gunung Bekel menjadi alternatif destinasi pendakian ringan di Mojokerto. Namun, prinsip keselamatan dan kelestarian lingkungan tetap menjadi prioritas utama bagi setiap pendaki. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe

















