PROBOLINGGO - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jumat (7/8/2026) sore. Dalam kunjungan tersebut, Gubernur memastikan upaya pemadaman dari udara mulai berjalan setelah helikopter water bombing milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berhasil melakukan empat kali penyiraman ke titik-titik api yang sulit dijangkau.
Meski demikian, operasi pemadaman dari udara sempat terkendala angin kencang yang bertiup di kawasan Bromo sehingga helikopter tidak bisa langsung diterbangkan.
Khofifah mengatakan, hingga Jumat sore luas kawasan yang terdampak kebakaran terus bertambah menjadi sekitar 176 hektare. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan luas kebakaran saat pertama kali terdeteksi.
"Ini kita kembali mengalami musibah ya. Kebakaran di Bromo awal itu terkonfirmasi 7,9 hektare, besoknya menjadi 44, jadi 51, sampai tadi pagi 176 hektare," ujar Khofifah di lokasi kebakaran.
Baca Juga : Percikan Api dari Bensin Eceran Sulut Kebakaran Rumah dan Toko di Blitar, Tiga Orang Alami Luka Bakar
Menurutnya, sejak hari kedua kebakaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah berkoordinasi dengan BNPB untuk meminta dukungan helikopter water bombing berkapasitas besar guna mempercepat proses pemadaman.
"Sebetulnya sejak hari kedua saya sudah koordinasi dengan BNPB. Pak Sekda juga sudah bersurat untuk dibantu heli yang memiliki kekuatan bisa melakukan water bombing sampai 1.000 liter," katanya.
Helikopter bantuan tersebut didatangkan dari Kalimantan Tengah. Setelah tiba pada Jumat pagi, armada langsung diterjunkan ke kawasan Bromo dan mulai melakukan operasi pemadaman.
Baca Juga : Rumah dan Toko Ludes Terbakar di Blitar, Tiga Orang Satu Keluarga Alami Luka Bakar
"Pagi tadi baru sampai satu dari Kalimantan Tengah. Hari ini sudah bisa melakukan penguatan upaya pemadaman," lanjutnya.
Khofifah menjelaskan, operasi water bombing sangat bergantung pada kondisi cuaca. Angin kencang yang terjadi di sekitar kawasan Bromo membuat helikopter beberapa kali harus menunda penerbangan demi alasan keselamatan.
"Kadang-kadang anginnya cukup kuat di sini, sehingga tidak bisa dihitung secara normal. Kalau dari jam 7 bisa berapa kali sorti, itu tidak semua bisa dihitung karena kalau angin kencang heli tidak bisa beroperasi," jelasnya.
Baca Juga : Korban Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II Asal Tulungagung Dimakamkan, Rekan Ungkap Rencana Nikah Tahun Ini

Selain faktor cuaca, waktu operasi helikopter juga dibatasi karena izin penerbangan dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang hanya sampai sekitar pukul 16.30 WIB. Oleh karena itu, proses water bombing akan kembali dilanjutkan pada Sabtu (8/8/2026).
Khofifah mengungkapkan, BNPB juga akan mengirim tambahan satu unit helikopter dari Banjarmasin agar proses pemadaman lebih maksimal.
Baca Juga : Diduga Korsleting Rice Cooker, Rumah di Pesantren Kota Kediri Ludes Terbakar, Kerugian Capai Ratusan Juta
"Besok insya Allah akan datang lagi heli perbantuan dari BNPB. Sekarang ada di Banjarmasin. Kalau ada dua armada, mohon doa semua, anginnya landai sehingga bisa maksimal melakukan water bombing," ujarnya.
Ia menambahkan, sumber air untuk kebutuhan water bombing kini lebih dekat karena dapat mengambil air dari Ranupane, sehingga waktu putar balik helikopter menjadi lebih singkat dibandingkan operasi pemadaman pada tahun 2023.
"Supaya lebih dekat, mudah-mudahan besok anginnya landai. Mengambil airnya dari Ranupane. Dua heli water bombing bisa maksimal," katanya.
Baca Juga : Kesaksian Korban Selamat KMP Mutiara Sentosa II: Api Diduga Berasal dari Sebuah Truk
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menjelaskan helikopter mulai beroperasi sekitar pukul 14.30 WIB. Hingga sore hari, helikopter telah empat kali melakukan water bombing dengan kapasitas sekitar 1.000 liter air pada setiap penyiraman.
"Hari ini water bombing dimulai sekitar pukul 14.30 WIB. Sampai sore sudah empat kali penyiraman. Setiap sortie membawa sekitar 1.000 liter air," terang Gatot.
Selain pemadaman dari udara, BPBD Jawa Timur juga mengerahkan drone water spray berkapasitas 150 liter untuk membantu proses pembasahan di sejumlah titik yang masih mengeluarkan asap.
"Drone kami gunakan untuk pendinginan atau pembasahan. Di darat, personel gabungan juga tetap melakukan penyemprotan manual dan membuat sekat agar api tidak kembali meluas," jelasnya.
Meski sebagian besar api mulai berhasil dikendalikan, petugas gabungan masih menemukan beberapa titik api kecil yang terus dipantau selama 24 jam. Pemerintah berharap tambahan armada helikopter serta kondisi cuaca yang lebih bersahabat dapat mempercepat pemadaman total kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Editor : Iwan Iwe



















