JOMBANG - Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA-PMII) menggelar diskusi bertajuk Syiar dan Gebyar Muktamar ke-35 NU di Griya Limasan, Peterongan, Jombang, Sabtu (29/8/2026).
Diskusi tersebut mengangkat tema “Ketahanan Pangan: Sektor Riil dan Ilegal Market” dengan menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, yakni Firmansyah Ali (Aktivis 98), Dian Fariccha (pakar hukum tata negara), dan Syamsul Huda (Owner CV Huda Lestari Berkah).
Ketua Panitia Syiar dan Gebyar Muktamar ke-35 NU, Soleh Bashari, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya PB IKA-PMII menyemarakkan Muktamar NU sekaligus memperkuat jaringan alumni dari berbagai daerah.
Menurut Soleh, kegiatan ini memiliki tiga tujuan utama, yakni menjadi ruang silaturahmi bagi alumni yang datang dari berbagai penjuru Nusantara, memperkuat idealisme dan keilmuan alumni yang berkarier di dunia akademik, serta merawat ekosistem pergerakan.
“Pertama, untuk ajang silaturahmi bagi teman-teman yang datang menyemarakkan Muktamar dari seluruh Nusantara,” ujar Soleh.
Ia mengatakan, forum tersebut juga diharapkan mampu memperkuat jejaring dan konsolidasi alumni agar gerakan yang dibangun dapat berjalan lebih terukur dan sistematis.
“Kita harapkan dari acara ini, jejaring, kemudian konsolidasi pergerakan, konsolidasi alumni itu menjadi lebih terukur, sistematis, dan lebih menggaransi bahwa misi kita itu berhasil sampai tujuan,” katanya.
Dalam diskusi tersebut, isu ketahanan pangan menjadi salah satu perhatian utama. Soleh menilai ketahanan pangan memiliki posisi penting karena menjadi salah satu agenda dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Ia menyatakan IKA-PMII mendukung sekaligus ingin ikut mengawal program ketahanan pangan agar dapat diwujudkan.
“Ketahanan pangan itu salah satu dari Asta Cita Presiden Prabowo. Kita mendukung, menyokong, dan bersama Presiden untuk mengawal program itu terwujud,” tegasnya.
Menurutnya, kondisi sektor pangan juga perlu dilihat dari sisi kesejahteraan petani. Ia menilai perkembangan harga gabah dan beras turut memberikan dampak terhadap kehidupan petani.
“Kita terbukti bahwa sepanjang sejarah Republik, harga gabah tertinggi, harga beras tertinggi adalah di era Presiden Prabowo, dan kita menyaksikan petani-petani kita gembira,” katanya.
Soleh menambahkan, dukungan terhadap ketahanan pangan tidak hanya diwujudkan melalui diskusi. Sejumlah alumni IKA-PMII juga telah bergerak di sektor riil melalui badan usaha maupun usaha binaan.
Menurutnya, sektor yang digeluti para alumni cukup beragam, mulai dari peternakan, perikanan hingga pengembangan food estate dalam skala kecil.
“Kita punya semacam badan usaha-badan usaha teman-teman alumni, badan-badan binaan di sektor riil. Ada yang peternakan, kemudian perikanan, dan juga ada satu-dua yang bergerak di food estate dalam skala kecil di Bogor Barat,” jelasnya.
Karena itu, pemilihan narasumber dalam diskusi juga disesuaikan dengan tema yang dibahas. Syamsul Huda dihadirkan sebagai pelaku ekonomi sektor riil yang bergerak di bidang perikanan di Kediri.
Sementara Firmansyah Ali merupakan aktivis 1998 yang dinilai masih memiliki idealisme dan jaringan dalam pengembangan sektor riil.
Adapun Dian Fariccha turut dihadirkan untuk memberikan perspektif dari sisi hukum tata negara sekaligus pengalamannya dalam berbagai aktivitas sosial dan ekonomi kreatif.
Soleh menjelaskan, Syiar dan Gebyar Muktamar ke-35 NU tidak hanya digelar dalam satu sesi. Kegiatan tersebut terdiri atas tiga rangkaian diskusi dengan tema berbeda.
Rangkaian pertama yang digelar sebelumnya membahas “Gerakan Islam dan Reaktualisasi Nahdlatut Tijan”.
Sementara diskusi kedua mengangkat tema “Ketahanan Pangan”dengan pembahasan sektor riil dan illegal market.
Setelah sesi tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi ketiga yang mengangkat tema “Ketahanan Energi”.
"Semoga momentum Muktamar ke-35 NU tidak hanya menjadi ajang pertemuan warga Nahdliyin, tetapi juga menjadi ruang bertukar gagasan, memperkuat konsolidasi alumni, serta melahirkan gagasan konkret untuk menjawab berbagai persoalan bangsa," harapnya. (*)
Editor : M Fakhrurrozi


















