Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat prosesi sakral yang dikenal dengan tedhak siten atau upacara turun tanah. Prosesi adat ini biasanya dilaksanakan saat anak menginjak usia tujuh selapan (sekitar tujuh bulan) menurut penanggalan Jawa. Upacara ini merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan sekaligus simbol persiapan sang buah hati dalam menapaki kehidupan yang mandiri.
Salah satu perlengkapan utama yang mencuri perhatian dalam tedhak siten adalah jadah tujuh warna. Kudapan tradisional berbahan dasar beras ketan dan kelapa parut ini bukan sekadar hidangan, melainkan media doa yang sarat makna filosofis.
Makna Simbolis di Balik Tujuh Warna
Jadah tersebut dibuat dalam tujuh varian warna: hitam, ungu, biru, hijau, merah, kuning, dan putih. Ketujuh warna ini melambangkan berbagai rintangan maupun anugerah yang akan dihadapi anak kelak.
Dalam prosesinya, orang tua akan menuntun sang anak menapaki jadah yang disusun berurutan dari warna gelap menuju warna terang. Urutan ini mengandung filosofi mendalam bahwa kehidupan tidak selamanya berjalan mudah. Akan ada masa-masa sulit yang digambarkan dengan warna gelap, namun dengan keteguhan hati, sang anak diharapkan selalu menemukan titik terang dalam setiap persoalan.
Angka Tujuh dan Harapan 'Pitulungan'
Pemilihan angka tujuh atau pitu dalam budaya Jawa memiliki keterkaitan erat dengan kata pitulungan yang berarti pertolongan. Melalui prosesi menapaki tujuh warna jadah ini, orang tua memanjatkan doa agar sang anak senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Esa dalam setiap langkah hidupnya.
Tekstur jadah yang padat, kenyal, dan lengket juga melambangkan eratnya hubungan kekeluargaan serta doa orang tua yang tidak terputus bagi masa depan anak.
Kearifan Lokal di Jawa Timur
Di wilayah Jawa Timur, tradisi ini tetap lestari dan dimaknai sebagai simbol harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan sukses. Jadah tujuh warna bukan sekadar sesaji pelengkap upacara, melainkan manifestasi cinta orang tua yang dibungkus dalam kearifan budaya.
Melalui langkah kecil di atas jadah berwarna-warni tersebut, terselip pesan besar tentang perjalanan hidup yang penuh warna—tentang jatuh dan bangkit, tentang gelap dan terang, serta tentang keyakinan bahwa setiap anak akan menemukan jalannya sendiri dengan bimbingan nilai-nilai luhur. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















