SURABAYA - Industri perfilman Tanah Air kembali diramaikan dengan kehadiran film bertema budaya daerah. Film berjudul Sunda Emperor produksi Sapawave Films dijadwalkan siap tayang pada 2026. Film ini menjadi produksi perdana Sapawave Films yang secara berani mengangkat sejarah dan budaya Sunda dengan pendekatan modern.
Film Sunda Emperor mengusung genre drama petualangan yang dipadukan dengan unsur komedi. Karya ini diproduseri, disutradarai, sekaligus ditulis oleh Angling Sagaran. Berbeda dari film bertema budaya pada umumnya, Sunda Emperor mencoba menyajikan cerita daerah tanpa kesan kaku, sehingga lebih relevan dengan penonton masa kini.
“Film ini memang berangkat dari sejarah dan nilai budaya Sunda, tapi kami kemas dengan cara yang lebih ringan dan modern. Tujuannya supaya generasi muda tidak merasa jauh dengan cerita daerahnya sendiri,” ujar Angling Sagaran dalam keterangan channel Sapawave
Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris muda, di antaranya Laura Moane, Bilal Fadh, Maghara Adipura, Vansa Be, Itings Meledax, dan Yujeng Hensem. Kehadiran para pemeran tersebut diharapkan mampu memberikan warna segar sekaligus menjangkau penonton lintas generasi.
“Kami ingin menghadirkan karakter-karakter yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tapi tetap membawa pesan tentang identitas dan budaya Sunda,” tambah Angling.
Secara garis besar, Sunda Emperor menceritakan perjalanan seorang laki-laki bernama Miheng yang ditemani dua sahabatnya, Ece dan Ohim. Ketiganya terlibat dalam petualangan yang sarat nilai persahabatan, pencarian jati diri, serta refleksi terhadap sejarah dan budaya Sunda di tengah era modern.
Salah satu keunikan film ini adalah penggunaan bahasa daerah secara penuh. Sunda Emperor tercatat menggunakan seratus persen bahasa Sunda sepanjang film, hal yang masih jarang ditemui dalam industri perfilman Indonesia.
“Penggunaan bahasa Sunda secara penuh adalah bentuk komitmen kami untuk menjaga autentisitas cerita. Tapi penonton tidak perlu khawatir, karena alur ceritanya tetap universal dan mudah dipahami,” jelas Angling.
Melalui Sunda Emperor, Sapaware Films berharap dapat membuka ruang lebih luas bagi film-film lokal berbasis budaya daerah agar mendapat tempat di industri perfilman nasional. Film ini juga diharapkan mampu menjadi jembatan antara nilai tradisi dan realitas kehidupan modern. (*)
Editor : Iwan Iwe



















