Menu
Pencarian

Film Di Ujung Pematang Angkat Bobroknya Birokrasi Desa

Portaljtv.com - Jumat, 22 Mei 2026 19:29
Film Di Ujung Pematang Angkat Bobroknya Birokrasi Desa
potongan scene dalam film Di Ujung Pematang

SURABAYA - Film Di Ujung Pematang karya mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya menghadirkan persoalan bobroknya birokrasi desa dan praktik korupsi melalui perjalanan tokoh Pambudi, sosok idealis yang berusaha memperjuangkan perubahan di lingkungannya.

Diadaptasi dari novel Di Kaki Bukit Cibalak karya Ahmad Tohari, proses ekranisasi film ini mengalami sejumlah penyesuaian cerita dan latar.

Perubahan paling kentara terlihat pada judul film. Latar perbukitan Yogyakarta dalam novel diubah menjadi suasana pedesaan di Sidoarjo. Dari situlah muncul judul Di Ujung Pematang yang dianggap lebih sesuai dengan konsep visual dan perjalanan cerita yang dibangun dalam film.

“Pematang di sini itu bukan sekadar galengan sawah, tapi perjalanan panjang Pambudi,” jelas Shafa selaku penulis skenario.

Baca Juga :   Film Pakaryan Gandeng Kajawi, Satukan Kritik Sosial dalam Musik dan Film

Filosofi pematang juga menggambarkan perjuangan Pambudi yang tidak selalu berjalan mulus. Seperti berjalan di atas pematang sawah, ia harus menjaga keseimbangan (bersabar) di tengah berbagai tekanan dan konflik yang dihadapi.

Meski mengalami banyak penyesuaian, tim produksi menegaskan bahwa inti cerita dari novel tetap dipertahankan, yakni tentang perjuangan individu melawan sistem birokrasi desa yang rusak. Tokoh Pambudi digambarkan sebagai sosok idealis yang perlahan menyadari bahwa perubahan tidak dapat dilakukan seorang diri.

Baca Juga :   Purrfect Day Out: Aksi Berbagi Kasih Sayang kepada Kucing UNESA Kampus 1 Ketintang

Selain perubahan latar, terdapat pula penyesuaian karakter untuk membuat cerita terasa lebih relevan. Jika, dalam novel Pambudi merupakan mahasiswa teknik, dalam film ia diubah menjadi mahasiswa sastra. Perubahan tersebut dilakukan agar karakter Pambudi terasa lebih dekat dengan dunia kepenulisan dan kritik sosial yang diangkat dalam cerita.

Perlawanan Pambudi terhadap sistem di desanya dilakukan melalui tulisan-tulisannya yang menyebar di tengah masyarakat. Film juga menambahkan sejumlah konflik baru, termasuk kematian ayah Pambudi, untuk memperlihatkan bahwa perjuangannya tidak selalu berjalan mudah.

Sebagai proyek film pertama bagi tim Di Ujung Pematang, proses produksi dilakukan secara kolektif antara sutradara, penulis, produser, hingga kru produksi.

Baca Juga :   Unesa Kukuhkan 9 Guru Besar Baru, Salah Satunya Profesor Disabilitas Penemu Obat Diabetes

Selama prosesnya, mereka mengaku kerap menemukan perbedaan pandangan dalam pengembangan cerita maupun pengambilan gambar. Namun, seluruh proses kreatif tetap diselesaikan melalui diskusi bersama untuk menemukan bentuk cerita yang paling sesuai.

Film dibangun secara kolektif, bukan kerja satu orang,” ujar Kayla selaku produser.

Tak hanya berakhir pada screening bersama pada 21 Mei 2026, produser dan sutradara telah menargetkan film ini untuk didaftarkan ke sejumlah festival.

Mereka merasa perjuangan banyak orang dalam proses produksi tidak seharusnya berhenti pada penayangan di lingkungan kampus semata.

“Kami ingin penonton bisa menangkap poin yang ingin kami sampaikan lewat film ini. Kebobrokan desa bukan hal yang bisa dibasmi hanya dengan satu orang baik seperti Pambudi,” jelas Rizal selaku sutradara.

Editor : Iwan Iwe






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.