PARIS - Ratusan ribu pekerja bersama mahasiswa turun ke jalan dalam demonstrasi besar-besaran di berbagai wilayah Prancis pada Kamis (5/11/2026). Aksi tersebut digelar untuk memprotes rendahnya upah, meningkatnya biaya hidup, serta tuntutan perbaikan layanan publik yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Demonstrasi tersebut digerakkan sejumlah serikat pekerja utama, di antaranya Konfederasi Umum Buruh (CGT) dan Konfederasi Demokrat Prancis (CFDT), bersama organisasi buruh lainnya. Mereka mendesak pemerintah meningkatkan kesejahteraan pekerja, memperbaiki layanan publik, serta mengatasi ketimpangan ekonomi.
Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat sebanyak 575.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh negeri. Sementara itu, CGT memperkirakan jumlah peserta mencapai 1.573.000 orang. Perbedaan angka tersebut mencerminkan perbedaan perhitungan antara pemerintah dan pihak penyelenggara aksi.
Aksi unjuk rasa berlangsung di berbagai kota besar, seperti Paris, Marseille, Lyon, Nantes, Rennes, hingga Bordeaux. Di Paris, puluhan ribu demonstran memadati jalan-jalan utama. Menara Eiffel bahkan ditutup sementara sebagai langkah pengamanan selama berlangsungnya demonstrasi.
Baca Juga : Kylian Mbappe Pecahkan Rekor Top Skor, Ungguli Lionel Messi dalam Perebutan Sepatu Emas Piala Dunia 2026
Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, bentrokan terjadi di sejumlah kota, termasuk Rennes, Marseille, Nantes, Bordeaux, dan Strasbourg. Kepolisian Prancis melaporkan telah menangkap 448 orang terkait rangkaian kericuhan tersebut. Pemerintah juga mengerahkan sekitar 70.000 personel keamanan untuk mengawal demonstrasi di seluruh negeri.
Selain aksi turun ke jalan, demonstrasi juga disertai mogok kerja yang mengganggu sejumlah sektor pelayanan publik, terutama transportasi dan pendidikan. Kementerian Pendidikan Prancis mencatat tingkat partisipasi mogok kerja mencapai 15,81 persen di kalangan tenaga pengajar.
Gangguan juga terjadi di lingkungan pendidikan menengah dan perguruan tinggi. Sejumlah sekolah menengah atas mengalami penutupan maupun gangguan kegiatan belajar akibat aksi demonstrasi dan blokade yang dilakukan para pelajar. Laporan serikat pendidikan dan pemerintah menunjukkan perbedaan jumlah sekolah yang terdampak.
Baca Juga : Hasil Piala Dunia 2026: Banjir 10 Gol, Inggris Kalahkan Prancis untuk Segel Tempat Ketiga
Dalam aksi tersebut, para pekerja menuntut kenaikan upah minimum serta perbaikan kesejahteraan. CGT mengusulkan kenaikan upah minimum sebesar 10 persen, sedangkan CFDT mengajukan tambahan 100 euro bersih atau setara sekitar 100 euro per bulan bagi pekerja penerima upah minimum.
Di tengah tekanan tersebut, Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu mengumumkan rencana menggelar konferensi sosial bersama perwakilan serikat pekerja dan pengusaha pada Senin (9/11/2026). Pertemuan tersebut ditujukan untuk membahas persoalan daya beli dan upah pekerja.
Namun, sejumlah serikat pekerja menilai pemerintah masih perlu memberikan langkah konkret untuk menjawab tuntutan masyarakat. Mereka menegaskan mobilisasi akan terus berlanjut selama persoalan upah, layanan publik, dan kesejahteraan pekerja belum mendapatkan penyelesaian.
Gelombang demonstrasi tersebut menjadi salah satu tekanan sosial yang dihadapi pemerintahan Presiden Emmanuel Macron menjelang pemilihan presiden Prancis 2027. Ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah dan persoalan ekonomi menjadi bagian dari isu yang turut mewarnai dinamika politik nasional. (Tengku Abdillah Ayyub)
Editor : Iwan Iwe



















