PROBOLINGGO - Petani di Kabupaten Probolinggo memiliki cara tersendiri dalam menjaga silaturahmi sekaligus menyambut musim tanam. Salah satunya melalui ajang ketangkasan balap traktor pembajak sawah yang dikenal dengan sebutan Kerapan Sapeh Jepang. Tradisi unik ini digelar di area persawahan Desa Jangur, Kecamatan Sumberasih.
Sejak pagi, warga dari berbagai desa berbondong-bondong datang ke lokasi persawahan untuk menyaksikan karapan yang berbeda dari biasanya. Bukan sapi yang dipacu, melainkan mesin traktor buatan Jepang yang melaju kencang di lintasan sawah berlumpur. Inilah asal-usul nama Kerapan Sapeh Jepang yang akrab di telinga warga setempat.
Puluhan petani dari Desa Jangur dan desa-desa sekitar turut ambil bagian dalam lomba ini. Panitia menyiapkan dua unit traktor yang digunakan secara bergantian oleh peserta untuk menaklukkan lintasan sawah basah sepanjang 110 meter. Sebelum perlombaan dimulai, teknisi terlebih dahulu memeriksa kondisi traktor, mulai dari mesin, bahan bakar, hingga sistem pengereman, demi memastikan keselamatan peserta.
Baca Juga : Banjir Rendam 5 Kecamatan di Kabupaten Probolinggo, Warga Sebut Terbesar Sepanjang 2026
Meski mengandalkan mesin, lomba ini tidak semata soal kecepatan traktor. Ketangkasan peserta dalam mengendalikan kendaraan di medan licin menjadi kunci utama. Salah sedikit, traktor bisa oleng atau terjebak lumpur. Peserta harus menyelesaikan lintasan pulang-pergi sepanjang 110 meter, dan yang mencapai garis finis tanpa melanggar aturan dinyatakan sebagai pemenang.
Salah satu peserta, Muhammad Arif, mengatakan Kerapan Sapeh Jepang bukan sekadar perlombaan. Menurutnya, ajang ini menjadi sarana berkumpul dan mempererat hubungan antarpetani.
"Lomba ini menjadi hiburan bagi kami sebelum musim tanam. Saya berharap kegiatan ini bisa digelar secara rutin. Kalau memungkinkan, peserta juga bisa membawa traktor sendiri agar lebih seru,” ujar Muhammad Arif.
Baca Juga : Banjir di Kraksaan Belum Surut, Warga Butuh Bantuan Obat-obatan dan Makanan Buka Puasa
Kepala Desa Jangur, Lotvi, juga menilai kegiatan ini membawa dampak positif bagi kebersamaan warga. Ia menyebut Kerapan Sapeh Jepang sudah menjadi tradisi tahunan yang dinanti, karena mampu menyatukan petani dalam suasana santai dan penuh kegembiraan.

Pemerintah Kabupaten Probolinggo turut mengapresiasi kegiatan tersebut. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Arif Kurniadi, menilai Kerapan Sapeh Jepang sebagai bentuk kreativitas petani yang patut didukung.
Baca Juga : Banjir Rendam Jalur Pantura Probolinggo - Situbondo, Warga Mengungsi
"Kami sangat mendukung kegiatan ini dan berharap ke depan dapat dilaksanakan secara rutin. Traktor merupakan kebutuhan utama petani saat musim tanam, jumlahnya pun ribuan di Kabupaten Probolinggo. Karena itu, balap traktor ini berpotensi digelar secara rutin dengan skala yang lebih besar," ujar Arif Kurniadi.
Selain memperkuat silaturahmi, kegiatan ini juga mencerminkan peralihan pertanian menuju mekanisasi. Ke depan, pemerintah daerah berencana mengembangkan Kerapan Sapeh Jepang menjadi agenda yang lebih besar dengan memperebutkan Piala Bupati Probolinggo, sehingga diharapkan mampu menarik perhatian lebih luas dan menjadi ikon kegiatan pertanian di Kabupaten Probolinggo. (*)
Editor : A. Ramadhan



















