KEDIRI - Tersembunyi di Desa Tambakrejo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, berdiri sebuah bangunan yang menyimpan narasi sejarah perjuangan Islam yang panjang. Masjid Baiturrahman, demikian namanya, bukan sekadar tempat ibadah biasa. Bangunan berusia hampir dua abad ini diyakini sebagai peninggalan bersejarah dari sosok pendakwah yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro.
Masjid Baiturrahman dibangun sekitar tahun 1830-an oleh Kiai Abdurahman. Beliau merupakan salah satu Senopati (panglima perang) di bawah komando Pangeran Diponegoro yang berhasil menyelamatkan diri dari kepungan tentara kolonial Belanda. Setelah menempuh perjalanan panjang, Kiai Abdurahman sampai di wilayah Gurah yang saat itu masih berupa hutan belantara. Di lokasi itulah, beliau mulai membuka lahan, mendirikan masjid, dan memulai syiar dakwah Islam bagi masyarakat sekitar.
Salah satu keunikan yang membedakan masjid ini dari bangunan bersejarah lainnya adalah ornamen lafaz "Lillah" yang menghiasi hampir seluruh sudut bangunan. Lafaz ini dapat dijumpai pada dinding, pintu, mimbar, tiang penyangga, hingga kayu usuk penopang atap.
Menurut Zaini Thoyyib, pengasuh Masjid Baiturrahman sekaligus generasi keempat dari keturunan Kiai Abdurahman, ornamen tersebut bukan sekadar hiasan estetika. "Ornamen ini merupakan simbol dari ajaran tarekat Naqsyabandiyah yang ditekankan oleh kakek buyut saya. Ini adalah pesan tentang keikhlasan dalam beribadah," ujar Zaini.
Meski telah berusia lebih dari 190 tahun, struktur utama Masjid Baiturrahman tetap terjaga keasliannya. Pihak pengelola sangat berhati-hati dalam melakukan perawatan agar nilai sejarahnya tidak hilang. Pemugaran yang dilakukan pun sangat minim, seperti penggantian material atap dan ubin pada tahun 1980-an, tanpa mengubah bentuk dasar bangunan kayu yang menjadi ciri khasnya.
Hingga saat ini, Masjid Baiturrahman tetap menjadi saksi bisu perjalanan dakwah di Kediri bagian timur, sekaligus menjadi pengingat akan kegigihan para pejuang masa lalu dalam menjaga api iman dan perjuangan di tanah Jawa. (Nata Renata)
Editor : Iwan Iwe



















