PROBOLINGGO - Nasib pilu dialami Najwa Putri Ayu Pranita, atlet dayung muda berprestasi asal Kota Probolinggo. Meski berhasil mengharumkan nama daerah dengan meraih dua medali perunggu pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur 2025, Najwa justru gagal diterima di SMA Negeri 4 Kota Probolinggo melalui jalur prestasi non-akademik.
Kegagalan tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat yang digelar Komisi I DPRD Kota Probolinggo bersama orang tua siswa, pihak sekolah, Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur, dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Rabu (24/6/2026).
Najwa yang baru lulus dari SMP Negeri 2 Kota Probolinggo sebelumnya optimistis dapat melanjutkan pendidikan ke SMA negeri melalui jalur prestasi non-akademik. Prestasi dua medali perunggu Porprov Jatim 2025 cabang olahraga dayung nomor perorangan menjadi modal utama yang diandalkannya.
Namun harapan tersebut pupus saat hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) diumumkan. Namanya tidak tercantum dalam daftar siswa yang diterima.
"Saya sudah berusaha maksimal selama ini, latihan dan mengikuti kejuaraan hingga berhasil mendapatkan medali untuk Kota Probolinggo. Saya berharap prestasi itu bisa membantu saya masuk sekolah negeri, tetapi ternyata tidak lolos," ujar Najwa dengan nada sedih saat mengikuti rapat dengar pendapat.
Tak hanya persoalan berkas prestasi, Najwa juga menemukan kejanggalan pada nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang tercantum di akun pendaftaran SPMB.
Dalam sertifikat asli, nilai matematika Najwa tercatat 50 poin. Namun saat muncul di akun pendaftaran online, nilainya hanya tercatat 20 poin. Perbedaan tersebut membuat rata-rata nilai akademiknya turun hingga berada di kisaran 73.
"Saya kaget saat melihat hasil yang muncul di sistem berbeda dengan sertifikat asli yang kami pegang. Tentu hal ini sangat merugikan saya,"tambahnya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 4 Kota Probolinggo, Holis Rodi Wasito, menjelaskan bahwa kegagalan Najwa bukan karena prestasi yang dimiliki tidak memenuhi syarat, melainkan karena adanya kesalahan administrasi saat proses unggah dokumen pendaftaran.
"Setelah kami telusuri, terdapat salah satu dokumen yang menjadi syarat pendaftaran tidak ikut terunggah ke sistem. Dokumen tersebut adalah surat yang harus ditandatangani kepala sekolah asal. Karena dokumen tidak masuk ke sistem, proses verifikasi tidak bisa dilakukan secara lengkap," jelas Holis.
Meski demikian, Holis mengatakan pihak sekolah telah memberikan solusi agar Najwa tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan di sekolah negeri.
"Kami sudah menyampaikan bahwa yang bersangkutan masih dapat mengikuti pendaftaran pada gelombang berikutnya melalui jalur prestasi akademik. Selain itu, persoalan nilai TKA yang berbeda juga bisa diajukan untuk dilakukan revisi sesuai data asli," tambahnya.
Di sisi lain, anggota Komisi I DPRD Kota Probolinggo, Sibro Malisi, menyayangkan kejadian yang menimpa atlet berprestasi tersebut. Menurutnya, minimnya sosialisasi dan pendampingan terkait mekanisme pendaftaran online menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kasus tersebut.
"Anak ini memiliki prestasi yang membanggakan Kota Probolinggo. Sangat disayangkan apabila kesempatan melanjutkan pendidikan terhambat hanya karena persoalan administrasi yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal," ujar Sibro.
Menurut Sibro, sekolah asal maupun sekolah tujuan seharusnya lebih aktif memberikan pendampingan kepada calon peserta didik dan orang tua saat proses pendaftaran berlangsung.
"Banyak masyarakat yang belum sepenuhnya memahami sistem pendaftaran online. Karena itu, sekolah harus hadir memberikan edukasi dan pendampingan agar tidak ada lagi siswa yang dirugikan akibat kesalahan teknis," tegasnya.
Kasus yang dialami Najwa menjadi perhatian publik karena menyangkut masa depan atlet muda berprestasi. Di tengah upaya pemerintah mendorong lahirnya bibit-bibit atlet daerah, prestasi yang telah diraih bertahun-tahun nyaris tak berarti akibat kesalahan administrasi dalam proses pendaftaran sekolah.
Kini Najwa hanya berharap kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah negeri masih terbuka. Atlet dayung yang telah mempersembahkan dua medali Porprov bagi Kota Probolinggo itu ingin tetap melanjutkan sekolah sembari mengejar cita-citanya sebagai atlet berprestasi di masa depan.
Editor : A. Ramadhan



















