Menu
Pencarian


Angin Kencang Ganggu Uji Coba Helikopter Water Bombing Padamkan Kebakaran Bromo

Farid Fahlevi - Jumat, 7 Agustus 2026 15:15
Angin Kencang Ganggu Uji Coba Helikopter Water Bombing Padamkan Kebakaran Bromo
Helikopter water bombing melakukan ujicoba pengambilan air dari Ranu Pani, Kabupaten Lumajang, Jumat (7/8/2026) siang. (Foto: Istimewa)

PROBOLINGGO - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kini diperkuat dengan teknologi udara. Selain mengoperasikan drone water spray, BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BNPB mulai melakukan uji coba adaptasi helikopter water bombing. Namun, operasi tersebut masih menghadapi tantangan cuaca berupa angin kencang dan kondisi geografis pegunungan.

Hingga Jumat (7/8/2026), kobaran api masih terlihat di sejumlah titik di sisi timur hingga utara Kawah Bromo. Vegetasi savana yang mengering akibat musim kemarau membuat api cepat merambat, sementara medan yang curam menyulitkan petugas gabungan melakukan pemadaman dari darat.

Untuk menjangkau titik api yang berada di lereng dan tebing terjal, BPBD Jawa Timur mengoperasikan drone water spray berkapasitas 150 liter air. Drone tersebut diterbangkan ke lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan maupun personel darat.

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Subroto, mengatakan penggunaan helikopter menjadi solusi paling efektif untuk mempercepat pemadaman di kawasan yang sulit dijangkau.

"Pemadaman melalui udara ini menjadi opsi paling efektif untuk menjangkau titik api yang tidak dapat dilalui petugas darat," kata Gatot, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, satu unit helikopter telah menjalani uji coba adaptasi dengan mengambil air dari Danau Ranu Pani sebelum diterbangkan menuju lokasi kebakaran. Tahap ini dilakukan untuk memastikan pilot memahami karakteristik medan dan jalur penerbangan di kawasan Bromo.

Meski demikian, proses adaptasi belum dapat dilakukan secara maksimal karena kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

"Kendala utamanya adalah angin yang cukup kencang di sekitar kawasan Bromo. Selain itu, perbedaan elevasi antara lokasi pengambilan air dan titik kebakaran juga cukup tinggi sehingga membutuhkan penyesuaian dalam operasional," jelas Gatot.

Ia menambahkan, faktor keselamatan menjadi prioritas utama sebelum helikopter diterjunkan secara penuh dalam operasi water bombing.

"Kami tidak ingin memaksakan operasi apabila kondisi cuaca belum memungkinkan. Keselamatan kru penerbang tetap menjadi perhatian utama," ujarnya.

BPBD Jawa Timur bersama BNPB saat ini juga menyiapkan dua unit helikopter tambahan. Satu unit masih menjalani proses verifikasi administrasi di Bandara Abdulrachman Saleh, Malang, sedangkan satu helikopter lainnya sedang dalam perjalanan dari Banjarmasin menuju Juanda, Surabaya.

Apabila seluruh proses selesai, total tiga helikopter akan dikerahkan untuk mendukung pemadaman dari udara.

"Kami berharap tiga helikopter dapat segera beroperasi penuh agar kebakaran bisa lebih cepat dikendalikan," tutur Gatot.

Selain dukungan udara, ratusan personel gabungan dari BPBD, Balai Besar TNBTS, TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, serta berbagai instansi lainnya masih terus berjibaku memadamkan api secara manual. Mobil pemadam kebakaran dan truk tangki air juga terus dioperasikan di lokasi yang masih dapat dijangkau melalui jalur darat.

Petugas berharap kombinasi pemadaman dari darat dan udara mampu mempercepat pengendalian kebakaran sehingga tidak semakin meluas ke kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.