SURABAYA - Operasional tempat hiburan malam Casbar di Jalan Dr. Ir. H. Soekarno, Rungkut, Surabaya, diguncang aksi protes warga, pada Sabtu (18/4/2026) malam.
Sejumlah warga mendatangi lokasi sambil membawa spanduk penolakan. Mereka mempersoalkan kebisingan dan aktivitas usaha yang dinilai mengganggu lingkungan sekitar.
Aksi ini sangat disesalkan manajemen Casbar. Pasalnya, manajemen menegaskan seluruh perizinan usaha telah dikantongi secara lengkap, mulai dari tingkat kota hingga pusat.
Tak hanya itu, aksi ini juga berdampak pada omset Casbar. Manajemen mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat turunnya jumlah pengunjung.
Tim Legal Casbar, Chelsen Wijaya, menegaskan pihaknya tidak mengabaikan keluhan warga. Berbagai langkah telah dilakukan, termasuk mediasi berulang kali dengan masyarakat serta penambahan peredam suara untuk meminimalisir kebisingan.
“Kami sudah menindaklanjuti semua aduan, mulai dari mediasi hingga pemasangan peredam suara. Bahkan kompensasi juga sudah kami berikan,” ujar Chelsen.
Ia menekankan, secara hukum Casbar merupakan usaha yang sah dan telah memenuhi seluruh aspek perizinan. Dokumen yang dimiliki mencakup Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat standar usaha bar dan restoran, izin minuman beralkohol, izin lingkungan, hingga sertifikasi laik hygiene sanitasi.
“Semua perizinan sudah lengkap. Jika tidak ada titik temu, kami akan menempuh jalur hukum, dan manajemen tetap beroperasi karena sudah mengikuti aturan dan sudah mengantongi berbagai ijin operasional, artinya jelas bisnis kita legal," tegasnya.
Senada, Humas Casbar, Sandy Reppy, menyayangkan aksi protes yang dinilai merugikan pelaku usaha yang telah patuh terhadap regulasi. Menurutnya, manajemen juga telah membuka ruang dialog dan menawarkan berbagai solusi kepada warga terdampak.
“Kami sudah beberapa kali menawarkan perbaikan maupun penyelesaian secara damai, termasuk uji kebisingan untuk memastikan masih dalam ambang wajar. Tapi tetap ditolak,” katanya.
Selain itu, pihak manajemen juga berupaya membangun hubungan dengan lingkungan sekitar dengan membuka peluang kerja bagi warga setempat, bahkan menjadi prioritas.
Meski demikian, Sandy mengakui aksi demonstrasi yang dilakukan mendadak pada malam hari berdampak besar terhadap operasional dan citra usaha. Ia berharap konflik dapat segera diselesaikan agar tidak terus merugikan kedua belah pihak.
“Kami ingin berdampingan dengan masyarakat. Tapi jangan sampai ada provokasi yang justru merugikan banyak pihak, termasuk karyawan yang menggantungkan hidup di sini,” tandasnya.
Pihaknya sebagai pelaku usaha yang berinvestasi di Surabaya sangat kecewa dengan aksi tersebut, apalagi dengan kondisi ekonomi saat ini, manajemen berharap bisa berdampingan pelaku usaha dan masyarakat sekitar agar perekonomian di Surabaya pun bisa terus terdongkrak. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















