Di antara deretan jajanan pasar tradisional, timus menjadi salah satu camilan berbahan dasar ubi jalar yang tetap digemari hingga kini. Berbentuk lonjong sederhana dengan warna kecokelatan, timus dikenal memiliki tekstur renyah di luar namun lembut dan empuk di dalam.
Timus terbuat dari ubi jalar baik yang berwarna putih, kuning, oranye, maupun ungu, yang dikukus hingga matang lalu dihaluskan. Ubi yang sudah lembut kemudian dicampur dengan gula pasir, sedikit garam, serta tepung tapioka atau kanji sebagai pengikat. Adonan tersebut dibentuk memanjang atau bulat, lalu digoreng dengan api sedang hingga berwarna keemasan.
Hasil akhirnya adalah camilan manis legit dengan sentuhan gurih alami dari ubi. Teksturnya yang lembut dan sedikit kenyal membuat timus cocok disantap hangat sebagai teman minum teh atau kopi. Tak jarang, timus juga dijadikan sarapan praktis atau takjil saat bulan Ramadan.
Secara historis, timus dikenal luas sebagai makanan khas Yogyakarta dan berkembang di berbagai wilayah Jawa Tengah serta Jawa Timur. Kehadirannya tak lepas dari tradisi masyarakat Jawa yang memanfaatkan ubi jalar sebagai sumber karbohidrat alternatif selain nasi. Pada masa paceklik atau masa sulit, ubi menjadi bahan pangan penting yang mudah didapat dan mengenyangkan. Dari situlah timus muncul sebagai olahan sederhana yang praktis dan bernilai ekonomis.
Baca Juga : Takjil Yang Banyak Dikonsumsi Warga Indonesia Saat Buka Puasa
Selain rasanya yang lezat, timus juga memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Ubi jalar kaya akan serat, vitamin A, vitamin C, serta beta karoten, terutama pada ubi berwarna oranye dan ungu. Kandungan seratnya membantu memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga camilan ini bisa menjadi pilihan alternatif yang lebih sehat dibandingkan jajanan tinggi gula dan lemak.
Seiring waktu, timus mengalami berbagai variasi. Beberapa penjual menambahkan isian seperti cokelat atau gula merah cair untuk memberikan sensasi rasa berbeda. Bahkan, kini timus tidak hanya dijual dalam bentuk siap santap di pasar tradisional, tetapi juga tersedia dalam versi frozen yang dipasarkan secara daring. Inovasi ini membuat timus semakin mudah dinikmati kapan saja.
Dari segi harga, timus tergolong jajanan yang ramah di kantong. Di pasar tradisional, satu buah timus biasanya dibanderol mulai dari Rp2.000 per biji, tergantung ukuran dan variasinya. Harga yang terjangkau inilah yang membuat timus tetap menjadi favorit berbagai kalangan.
Di balik tampilannya yang sederhana, timus membuktikan bahwa olahan berbahan dasar lokal dapat bertahan lintas generasi. Camilan ini bukan sekadar kudapan manis, melainkan bagian dari warisan kuliner yang menyimpan cerita tentang ketahanan pangan dan kreativitas masyarakat dalam mengolah hasil bumi. (Amanda Dela)
Editor : Iwan Iwe



















