SURABAYA - Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya meluncurkan tiga buku karya siswa dalam Literacy Day 2026, Jumat (11/9/2026).
sebagai wujud penguatan budaya literasi melalui kegiatan membaca, menulis, mengeksplorasi ide, dan berkarya secara kreatif siswa di sekolah tersebut.
National Principal Sampoerna Academy Grand Pakuwon Surabaya, Maharsi Palupining Rini, mengatakan kemampuan literasi perlu dibangun melalui proses belajar yang dekat dengan kehidupan siswa.
“Kami ingin mengajak siswa melihat literasi bukan hanya tentang seberapa banyak anak membaca, tetapi juga tentang seberapa baik mereka memahami, menginterpretasikan, dan memaknai apa yang dibaca,” ujar Palupi.
Menurutnya, proses tersebut membantu siswa memperluas wawasan, melihat perspektif baru, serta menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kehidupan di sekitarnya.
Penguatan kemampuan literasi itu salah satunya dilakukan melalui kebiasaan “Gemar Belajar” yang merupakan bagian dari 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Siswa tidak hanya membaca, tetapi juga diajak berdiskusi, berefleksi, mengeksplorasi ide, serta menuangkan pemahaman melalui tulisan dan karya kreatif. Proses pembelajaran tersebut didukung pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) serta 5C, yakni creativity, critical thinking, communication, collaboration, dan character.
"Tiga buku yang diluncurkan merupakan hasil Writing Competition melalui pembelajaran Bahasa Indonesia dan Projek Co-Curricular. Karya terpilih kemudian dikembangkan bersama guru melalui proses pengembangan ide, penulisan, hingga revisi,"lanjutnya.
Pada jenjang primary, buku yang diluncurkan berjudul “Minggu yang Menyenangkan” karya Alicia Georgia Marcia Oscar, dengan ilustrasi Gwyneth Allison Supiyan dan Frances Eunice B.B.
Sementara pada jenjang secondary terdapat dua karya, yakni “Panen Kekuatan Rahasia” karya Aireen Angelie Effendy, dengan ilustrasi Cherish Annabelle Utomo dan Sumiko Nicoline Pricendra, serta “Di antara Ombak & Bisikan” karya Annabel Gladys Tjipto, dengan ilustrasi Eugene Poh, Miranda, dan Jennifer.
Palupi mengatakan pengalaman menulis dan mengembangkan buku tersebut tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga melatih siswa mengembangkan ide, menerima masukan, dan menyempurnakan tulisan.
“Dari situ, siswa dapat memperluas wawasan, melihat perspektif baru, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan di sekitarnya,” katanya.
Karya siswa tersebut selanjutnya diserahkan kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya untuk ditempatkan di Perpustakaan Umum Surabaya dan Taman Baca Masyarakat (TBM) Surabaya.
Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Novelija mengatakan kolaborasi sekolah dan perpustakaan diperlukan untuk membangun ekosistem.
"Karya siswa yang kami terima bukan hanya menjadi koleksi, melainkan bagian dari ruang belajar untuk menginspirasi anak-anak lain,” terangnya. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















