Menu
Pencarian

Teliti Gigi Goyang Tak Harus Dicabut, Dwi Wahyu Raih Gelar Doktoral FKG Unair

Portaljtv.com - Jumat, 19 Juni 2026 15:00
Teliti Gigi Goyang Tak Harus Dicabut, Dwi Wahyu Raih Gelar Doktoral FKG Unair
Dr. Dwi Wahyu Indrawati, S.H., M.Kes., Sp.Perio usai ujian diseminasi penyematan Doktoral S3 FKG Universitas Airlangga (Unair), Kamis (18/6/2026). (Foto: M. Rozi)

SURABAYA - Berkat penelitian gigi goyang tak harus dicabut, Dr. Dwi Wahyu Indrawati, S.H., M.Kes., Sp.Perio, berhasil meraih gelar Doktoral. Pemberian gelar doktoral dilakukan usai ujian diseminasi disertasi di ruang sidang Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Kamis (18/6/2026) pagi.

Diseminasi disertasi dipimpin Dekan FKG, Prof. Dr. Muhammad Luthfi, drg., M.Kes. Turut hadir dalam diseminasi disertasi ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. Erwin Astha Triyono, Kepala Dinas Sosial Prov. Jatim, Dra. Restu Novi Widiani.

Yang membanggakan, Dr. Dwi Wahyu berhasil menyelesaikan pendidikan jenjang Doktor (S3) hanya dalam kurun waktu 2,5 tahun atau 5 semester dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.

Dalam disertasinya, Dr Dwi Wahyu melakukan penelitian berjudul Mekanisme Kombinasi Bovine Membran Perikardium dan Hyaluronic Acid terhadap Ekspresi TNF-α, IL-10, VEGF, TGF-β, OCN dan Woven Bone pada Proses Bone Healing. Dalam penelitian eksperimental ini, Dwi mengembangkan bahan biomaterial yang berfungsi membantu memulihkan gigi yang goyang akibat kerusakan jaringan penyangga.

“Bahan ini bekerja sebagai membran bioaktif yang membantu tulang gigi yang mengalami penyusutan dapat tumbuh kembali. Penyebab gigi goyang bisa beragam, salah satunya efek penyakit sistemik seperti diabetes dan hipertensi yang dalam jangka panjang memengaruhi kondisi rongga mulut. Dengan terapi ini, gigi yang goyang tidak harus dicabut dan masih bisa dipertahankan,” jelasnya, Kamis (18/6/2026).

Ia menyampaikan bahwa meskipun bahan serupa sudah ada di pasaran, sebagian besar merupakan produk impor dengan harga tinggi sehingga sulit dijangkau banyak kalangan. Penelitiannya bertujuan menghadirkan alternatif buatan dalam negeri yang lebih terjangkau.

“Ini adalah kebaruan dari penelitian saya. Kami ingin menghadirkan biomaterial made in Indonesia yang bisa menjadi solusi nyata bagi masyarakat luas, tidak hanya tersedia di rumah sakit besar saja,” tegasnya.

Sebagai dokter gigi spesialis periodonsia, Dwi tergerak melakukan riset ini karena sering menemukan kasus pasien dengan gigi goyang parah yang terpaksa dicabut karena tidak ada penanganan yang memadai. Padahal, kehilangan gigi dapat mengganggu fungsi kunyah, penampilan, hingga memicu gangguan pencernaan dan masalah kesehatan lain.

“Kalau gigi hilang, proses mengunyah tidak sempurna. Makanan tidak terhaluskan dengan baik dan bisa membebani kerja lambung. Belum lagi jika ditambah faktor stres, risiko penyakit sistemik bisa makin meningkat. Oleh karena itu, penting untuk menjaga agar gigi tetap dapat dipertahankan selama memungkinkan,” paparnya.

Selama menempuh pendidikan doktoral, Dwi juga mencatat sejumlah prestasi luar biasa. Ia menghasilkan enam publikasi ilmiah di jurnal internasional terindeks Scopus (Q1, Q2, dan Q3), memperoleh pendanaan penelitian dan hilirisasi senilai mendekati Rp 1 miliar, meraih penghargaan Pemenang Kompetisi Inovasi Sidoarjo (KISI) 2025, serta menjalin kerja sama dengan industri nasional untuk menerapkan hasil risetnya.

Acara diseminasi penyematan Doktoral S3 FKG unair oleh Dekan FKG Unair hadiri oleh pejabat di lingkungan dekanat FKG Unair dan jajaran rektorat Unair, beserta dari Rektorat Umsida dan jajarannya di Ruang Sidang Dekan FKG Unair, Kamis (18/6/2026).

Sementara itu, Dekan FKG Unair, Prof. Dr. Muhammad Luthfi, drg., M.Kes., menyambut baik capaian sekaligus hasil penelitian tersebut. Ia menegaskan kampus mendorong hasil riset tidak hanya berhenti pada publikasi, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk yang bermanfaat langsung bagi masyarakat.

“Ini adalah lulusan doktor ke-37 dari program studi kami. Penelitian yang dihasilkan tidak hanya ilmiah, tetapi juga sudah masuk tahap hilirisasi. Salah satu wujudnya adalah pengembangan obat kumur yang mengandung bahan herbal dikombinasikan dengan asam hialuronat, untuk mempercepat pemulihan gusi yang meradang,” ujarnya.

Prof. Luthfi menambahkan bahwa keunggulan lain dari temuan ini adalah harganya yang lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis impor. Ia berharap inovasi ini nantinya dapat diterapkan secara luas di puskesmas dan fasilitas kesehatan dasar, sehingga dapat menjangkau lebih banyak orang yang membutuhkan. (*)

Editor : M Fakhrurrozi






Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.