SURABAYA - Kemampuan organisasi menghadapi krisis tidak cukup diukur dari seberapa cepat kondisi kembali seperti semula. Gagasan mengenai kemampuan untuk bangkit lebih kuat menjadi salah satu pembahasan menarik dalam Free Executive Webinar bertajuk “Strategic Risk Management: Strengthening Governance, Resilience, and Business Performance” yang digelar Airlangga Executive Education Center (AEEC) Universitas Airlangga pada Jumat, (11/09/2026).
Webinar menghadirkan Dr. Waluyo, QRCO, CGOP., QRGP., CGRCOP., dan Dr. Frizkana Meilia, S.E., S.H., M.A., CGAA., CMA., CESA., CSSL., QRMP., CIAP. Pembahasan mencakup tata kelola, manajemen risiko, resiliensi, agilitas, serta berbagai persoalan yang dapat memengaruhi kinerja organisasi.
Tak Sekadar Kembali seperti Semula
Salah satu konsep yang dibahas adalah bounce forward. Konsep tersebut menggambarkan resiliensi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan untuk kembali setelah krisis, tetapi juga pada kemampuan menjadi lebih kuat dan relevan.
Baca Juga : Pelatihan PSAK 118 AEEC Universitas Airlangga Bahas Checklist Kesiapan
“Resiliensi sejati bukan hanya bounce back. Organisasi perlu mampu bounce forward, yaitu keluar dari krisis dalam kondisi yang lebih kuat dan relevan,” ujar Frizkana dalam rekonstruksi pernyataan webinar.
Konsep tersebut berkaitan dengan agilitas, yakni kelincahan dalam menavigasi perubahan. Dalam lingkungan bisnis yang berubah cepat dan kompleks, kemampuan tersebut menjadi bagian penting dari kesiapan organisasi menghadapi ketidakpastian.
Membaca Risiko Sebelum Menjadi Krisis
Baca Juga : Update PPN Terbaru Administrasi Pajak, Wajib Pajak Harus Lebih Cermat Kelola Data
Webinar juga membahas emerging risks atau risiko baru yang memiliki data historis terbatas. Berdasarkan SNI ISO/TS 31050:2023, pengelolaan risiko tersebut menggunakan siklus inteligensi risiko DIPI yang meliputi Framing, Data & Analisis, Interpretasi, dan Inteligensi.
“Organisasi perlu menangkap weak signals sebelum berkembang menjadi krisis besar. Karena itu, informasi dan analisis risiko harus menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan,” ungkap Waluyo dalam webinar.
Belajar dari Kegagalan Tata Kelola
Sejumlah kasus turut digunakan sebagai pembelajaran, antara lain PT Sritex, Boeing 737 MAX, Silicon Valley Bank, Jiwasraya, dan Garuda Indonesia. Kasus-kasus tersebut menunjukkan berbagai dampak kelemahan tata kelola, pengabaian risiko, tekanan biaya, hingga struktur pembiayaan yang tidak memiliki skenario stres.
“Manajemen risiko harus ditempatkan sejak level strategis agar organisasi dapat mengawal pencapaian sasaran, bukan baru bertindak ketika masalah sudah terjadi,” pungkas Waluyo dalam webinar
Melalui pengelolaan yang terintegrasi, organisasi diharapkan lebih adaptif, akuntabel, resilien, dan mampu menghadapi dinamika lingkungan bisnis. (Naswa Thalita Zada)
Baca Juga : Bedah Aturan Baru PPh 0,5% UMKM, AEEC Unair dan KADIN Surabaya Gaet 300 Peserta
Editor : Iwan Iwe



















