Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dengan Iran mencapai titik kritis setelah penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (28/2/2026). Jalur laut paling strategis di dunia yang memisahkan Iran dan Uni Emirat Arab ini resmi ditutup, memicu guncangan hebat pada stabilitas ekonomi global.
Selat Hormuz merupakan "urat nadi" distribusi energi dunia dengan lebar hanya sekitar 33 kilometer. Jalur sempit ini dilewati hampir 20% pasokan minyak global, atau sekitar 17 juta barel per hari. Minyak yang melintas berasal dari delapan negara Teluk Persia, di mana 90% ekspor minyak mentah mereka bergantung sepenuhnya pada selat ini.
Negara-Negara Terdampak Signifikan
Jika penutupan ini berlangsung lama, sejumlah negara besar diprediksi akan mengalami kelumpuhan energi:
- India: Menjadi negara paling rentan karena 82% kebutuhan minyaknya berasal dari impor, dengan 60% di antaranya dipasok dari Timur Tengah melalui Selat Hormuz.
- Tiongkok: Sebagai pengimpor minyak terbesar dunia (10 juta barel per hari), sekitar 40% pasokannya melewati jalur ini. Jaringan pipa dari Asia Tengah dan Rusia dinilai belum mampu menutup celah kebutuhan nasionalnya.
- Jepang & Pakistan: Kedua negara ini menggantungkan 75% hingga 90% kebutuhan minyak mereka dari impor yang melintasi Selat Hormuz.
Para ahli memperingatkan bahwa harga minyak mentah dunia dapat melonjak melampaui 150 dolar AS per barel, yang berpotensi memicu inflasi besar-besaran dan resesi global.
Dampak bagi Indonesia: Subsidi BBM Terancam Membengkak
Meski Indonesia bukan pusat konflik, dampaknya mulai terasa secara tidak langsung. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan dalam rapat mitigasi di Istana Negara, Senin (2/3/2026), bahwa cadangan BBM nasional saat ini hanya cukup untuk kebutuhan 20 hari.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor migas Indonesia pada 2025 mencapai USD 32,77 miliar. Jika harga minyak dunia terus meroket, anggaran subsidi BBM dalam APBN berpotensi membengkak tajam. Hal ini dikhawatirkan akan memicu kenaikan harga barang pokok dan menekan daya beli masyarakat luas.
Kapal Tanker Tenggelam Akibat Serangan
Penutupan ini diumumkan secara resmi oleh Sepah Navy, angkatan laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Situasi kian mencekam setelah pada Senin (2/3/2026), sebuah kapal tanker dilaporkan terbakar dan tenggelam akibat tembakan militer Iran saat mencoba melintas.
Hingga berita ini diturunkan, lebih dari 150 kapal tanker memilih menurunkan jangkar di luar kawasan konflik guna menghindari risiko serangan. Eskalasi ini menandai gangguan pasokan energi paling serius dalam dekade ini, dengan konsekuensi ekonomi yang meluas hingga ke tanah air. (Mamluatus Salimah)
Editor : Iwan Iwe



















