Bakso bukan hanya sekadar kuliner. Di tangan dua mahasiswa Sendratasik Universitas Negeri Surabaya, interaksi antara penjual dan pembeli bakso diolah menjadi sebuah karya tari berjudul Resiprokal yang ditampilkan dalam ujian akhir Koreografi Murni pada Selasa, 9 Juni 2026.
Berawal dari kegemaran menikmati semangkuk bakso, Alvira Deva dan Vania Gracella selaku koreografer mendapatkan ide unik tersebut. Selain menjadi makanan favorit keduanya, bakso juga dipilih karena merupakan kuliner yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
"Kami melihat interaksi antara penjual dan pembeli itu seru dan belum pernah ada yang mengangkatnya menjadi sebuah tarian," ujar Deva.
Mengangkat hubungan timbal balik, saling memberi, dan saling menerima, mereka menamai karya tersebut Resiprokal. Nama tersebut dipilih karena selaras dengan konsep karya yang menyoroti hubungan antara penjual dan pembeli yang saling membutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Grace, kata ‘resiprokal’ dianggap mampu mewakili seluruh unsur yang diangkat dalam karya tersebut.
Proses menerjemahkan aktivitas jual beli menjadi sebuah pertunjukan tari bukanlah hal yang mudah. Kedua koreografer mengaku sempat mengalami kesulitan dalam mencari bentuk gerak yang mampu merepresentasikan interaksi antara penjual dan pembeli.
Berbagai revisi dilakukan sejak awal proses penciptaan hingga akhirnya mereka menemukan rangkaian gerak yang dianggap mampu menggambarkan hubungan timbal balik tersebut secara lebih utuh.
Proses penciptaan karya ini berlangsung selama lebih dari tiga bulan. Dalam rentang waktu tersebut, keduanya melakukan eksplorasi gerak, penyusunan konsep, hingga latihan bersama para penari.

Konsep timbal balik kemudian diterjemahkan melalui berbagai gerak yang melibatkan kontak antarpenari, seperti bergandengan tangan, bertukar posisi, hingga saling merespons gerakan satu sama lain.
Unsur artistik juga ditonjolkan untuk memperkuat konsep bakso yang diangkat. Mulai dari properti berbentuk pentol dan tahu, hingga aksesori rambut berwarna-warni yang merepresentasikan beragam kondimen pelengkap bakso.
Meski mengusung konsep tari kontemporer, karya ini tetap memadukan sejumlah unsur gerak tradisi. Sementara itu, musik pengiring digarap oleh seorang komposer asal Kalimantan yang memberikan warna tersendiri pada pertunjukan.
Deva dan Grace mengaku membangun chemistry para penari dengan memanfaatkan metode latihan berbasis video daring. Koreografi direkam terlebih dahulu kemudian dikirimkan kepada para penari untuk dipelajari secara mandiri. Saat pertemuan tatap muka, latihan difokuskan pada penyelarasan gerak dan pendalaman ekspresi.
Metode tersebut dinilai membantu mempercepat proses latihan di tengah padatnya jadwal para penari yang juga harus menjalani berbagai tugas dan ujian perkuliahan lainnya.
Melalui karya Resiprokal, keduanya ingin mengajak penonton untuk lebih menghargai para pedagang yang selama ini hadir memenuhi kebutuhan masyarakat.
"Kalau kita mau dilayani, kita juga harus bisa melayani," ujar Grace.
Sebab, tanpa kehadiran para pedagang, berbagai aktivitas sehari-hari tidak akan berjalan dengan mudah seperti yang dirasakan saat ini.(Luluk listiani)
Editor : Iwan Iwe


















