KOTA MALANG - Suasana khidmat dan penuh semangat menyelimuti Halaman Balai Kota Malang pada Rabu pagi, saat Pemerintah Kota Malang menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112. Upacara yang berlangsung tertib ini menjadi momen refleksi sekaligus penetapan langkah akselerasi bagi kota malang.

Bertindak selaku inspektur upacara, Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, dalam sambutannya mengawali dengan menyoroti sejarah panjang perjalanan kota yang dipimpinnya. Ia menegaskan bahwa tanggal 1 April 1914 merupakan titik awal resmi berdirinya Kota Malang.
"Dalam rentang waktu 112 tahun, berbagai dinamika telah kita lalui bersama; dari masa ke masa, dari tantangan ke tantangan; yang semuanya telah membentuk karakter kota ini menjadi kota yang tangguh, adaptif, dan penuh daya cipta," ujar Wahyu Hidayat di hadapan para aparatur sipil negara (ASN), tokoh masyarakat, dan perwakilan elemen warga kota.
Baca Juga : Pak Mbois Panggung Ludruk di TMII, Gebrak-genik Dukung Budaya Ngalam!
Dari perjalanan panjang itulah, kata Wali Kota, tercetus tema peringatan tahun ini, yaitu “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas”. Ia menjelaskan bahwa tema tersebut merupakan penegasan semangat dan komitmen bersama untuk melanjutkan langkah ke depan, menembus batasan, menuntaskan program pembangunan, dan menghadirkan Kota Malang yang semakin berkelas dalam berbagai aspek kehidupan.
"Ngalam Melintas dimaknai sebagai keberanian untuk menembus berbagai batas inovasi, teknologi, budaya, dan pembangunan. Bergerak Tuntas adalah komitmen untuk menyelesaikan setiap program secara akuntabel. Dan Mbois Berkelas menggambarkan identitas Kota Malang sebagai kota yang keren, membanggakan, berstandar tinggi, namun tetap menjunjung nilai budaya, kreativitas, dan solidaritas warganya," paparnya.
Orang nomor satu di Kota Malang itu juga menyampaikan apresiasi atas capaian positif yang berhasil diraih sepanjang tahun 2025 hingga 2026. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Malang mencapai 85,55, menjadikannya tertinggi kedua di Jawa Timur. Angka kemiskinan turun menjadi 3,85 persen, tingkat pengangguran menurun menjadi 5,69 persen, dan pertumbuhan ekonomi meningkat menjadi 5,92 persen.

Prestasi membanggakan juga berhasil ditorehkan, di antaranya tiga penghargaan bergengsi tingkat internasional seperti Kota Kreatif Dunia UNESCO bidang Media Arts, Clean Air for Big Cities Awards, serta Clean Tourist City Standard. Selain itu, ada 37 penghargaan tingkat nasional, 29 tingkat provinsi, dan 2 tingkat regional Malang Raya yang semakin menegaskan posisi Malang sebagai kota berdaya saing tinggi.
"Namun demikian, berbagai capaian dan prestasi tersebut tidak boleh menjadikan kita berpuas diri. Justru sebaliknya, ini harus menjadi pemacu semangat bagi kita semua untuk terus melintasi berbagai tantangan serta bergerak tuntas; dengan meningkatkan kinerja, memperkuat kolaborasi, serta menghadirkan inovasi-inovasi yang lebih progresif dan berdampak luas bagi masyarakat," tegas Wahyu Hidayat.
Di penghujung sambutannya, Wali Kota mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat sinergi dan kolaborasi. Ia juga menyoroti pentingnya simbol budaya, salah satunya peluncuran busana khas kota yang mengandung filosofi perpaduan nilai-nilai lokal, sejarah, dan nuansa kolonial sebagai penguat jati diri.
"Mari kita jaga semangat kebersamaan, kita rawat rasa memiliki terhadap kota ini, dan kita wujudkan Kota Malang sebagai kota yang tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga unggul dalam karakter, budaya, dan kualitas hidup warganya. Dengan semangat Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, Mbois Berkelas, mari kita lanjutkan pengabdian dan karya terbaik kita untuk Kota Malang tercinta," ajaknya.
Namun pesan paling tajam justru datang dari dalam. Pemkot Malang tidak boleh terjebak dalam rutinitas seremoni tanpa hasil konkret.
Wahyu secara terbuka mengakui, masih banyak persoalan yang belum terselesaikan, mulai dari problem perkotaan hingga tuntutan pelayanan publik yang lebih cepat dan tepat.
“Kita tidak hanya bicara sejarah atau prestasi.
Editor : JTV Malang



















