NGANJUK - Puluhan hektar tanaman cabai rawit milik petani di Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk, mengalami kerusakan parah pada bagian buah. Kondisi tersebut membuat petani hanya mampu memanen sekitar 40 persen dari total lahan yang ditanami, sementara sisanya mengering dan membusuk.
Kerusakan tanaman cabai ini berdampak langsung pada pendapatan petani. Salah satu petani setempat, Dwi Noto, mengatakan bahwa hampir seluruh lahan cabai di desanya mengalami kondisi serupa.
“Di Desa Jatigreges ini ada lebih dari sepuluh hektar tanaman cabai rawit. Tapi sekarang buahnya banyak yang rusak, mengering, dan membusuk, jadi tidak bisa dipanen maksimal,” ujar Dwi Noto, Kamis (15/1/2025).
Dwi menjelaskan, lahan cabai miliknya seluas seperempat hektar telah menghabiskan biaya produksi sekitar Rp5 juta. Namun, hasil panen yang diperoleh hanya bernilai sekitar Rp6 juta, sehingga nyaris tidak memberikan keuntungan.
Baca Juga : Puluhan Hektar Cabai Rawit Rusak di Nganjuk, Petani Mengaku Merugi
“Kalau dihitung-hitung, kami rugi tenaga dan biaya pupuk. Padahal kalau kondisi normal dan panen bagus, satu petak bisa menghasilkan keuntungan sampai Rp15 juta,” jelasnya.
Selain merugi secara ekonomi, petani juga mengaku kecewa terhadap minimnya perhatian dari pemerintah. Menurut Dwi, hingga saat ini belum ada kunjungan maupun pendampingan dari dinas terkait untuk membantu mengatasi kerusakan tanaman cabai.
“Dalam kondisi tanaman rusak seperti ini, kami berharap ada penyuluhan atau pendampingan. Tapi sampai sekarang belum pernah ada dinas pertanian yang datang ke sini,” keluhnya.
Para petani berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk melakukan pendataan, memberikan pendampingan teknis, serta solusi agar kerusakan tanaman cabai tidak terus berulang dan kerugian petani dapat diminimalkan.
Editor : JTV Madiun



















