BLITAR - Sekitar 500 peternak ayam petelur asal Kabupaten Blitar berangkat menuju Senayan, Jakarta, Selasa (6/10). Mereka akan bergabung bersama Pinsar Petelur Nasional untuk menggelar aksi damai sekaligus menyuarakan persoalan yang selama ini membebani peternak rakyat.
Massa peternak dari Blitar berangkat menggunakan bus. Aksi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Rabu (7/10) dengan membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah.
Salah satu persoalan utama yang dikeluhkan adalah harga telur yang terus berada di bawah harga pokok produksi (HPP). Kondisi tersebut disebut telah berlangsung sekitar enam bulan dan membuat peternak semakin kesulitan mempertahankan usahanya.
Selain harga telur yang anjlok, peternak juga menghadapi persoalan kelangkaan jagung yang menjadi salah satu bahan utama pakan ayam. Ketersediaan bahan baku pakan yang terbatas turut menambah beban biaya produksi di tingkat peternak.
Baca Juga : Sumur Amber Blitar Makin Dilirik, Wisata BUMDes Ini Sumbang PAD hingga Rp100 Juta
Para peternak meminta pemerintah segera mencari solusi untuk menopang keberlangsungan ekosistem peternakan rakyat. Salah satu tuntutan yang dibawa adalah menjadikan peternak rakyat sebagai mitra Badan Gizi Nasional (BGN).
Mereka juga meminta adanya pembatasan terhadap ekspansi kandang baru berskala besar. Kebijakan tersebut dinilai penting agar keberadaan peternak rakyat tetap mendapat ruang dan tidak semakin tertekan oleh ekspansi usaha peternakan skala besar.
Koordinator peternak Blitar, Rio Yudhistira, mengatakan kondisi harga telur saat ini masih jauh dari harga acuan pemerintah.
Baca Juga : Rumah dan Toko Ludes Terbakar di Blitar, Tiga Orang Satu Keluarga Alami Luka Bakar
"Saat ini harga telur ayam dari kandang berkisar Rp20 ribu per kilogram. Sementara harga acuan pemerintah sebesar Rp24.500 per kilogram," ujar Rio.
Selisih harga tersebut menjadi salah satu alasan peternak memilih menyampaikan aspirasi langsung ke pemerintah pusat. Mereka berharap aksi di Senayan dapat mendorong lahirnya kebijakan yang memberikan kepastian bagi peternak rakyat.
Peternak berharap pemerintah tidak hanya menyelesaikan persoalan harga telur, tetapi juga memastikan ketersediaan jagung sebagai bahan pakan serta menciptakan ekosistem usaha yang lebih berkelanjutan bagi peternak ayam petelur. (Qithfirul Aziz)
Editor : JTV Kediri























