NGAWI - Perum Bulog menargetkan penyerapan hingga 4 juta ton setara beras dari gabah petani pada tahun 2026. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Target tersebut disampaikan Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, saat menghadiri panen padi di Desa Baderan, Kecamatan Geneng, Kabupaten Ngawi, Sabtu siang.
Ia menegaskan, pemerintah melalui Bulog memastikan harga gabah petani tetap sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yakni sebesar Rp6.500 per kilogram. Dengan harga tersebut, diharapkan kesejahteraan petani dapat terjaga, terutama dalam menjaga stabilitas harga jual hasil panen.
“Kami memastikan harga gabah petani sesuai HPP sebesar Rp6.500 per kilogram, sehingga petani tetap mendapatkan kepastian harga,” ujar Ahmad Rizal Ramdhani.
Baca Juga : Terekam CCTV, Emak-emak dan Dua Remaja Curi Susu di Minimarket
Menurutnya, Kabupaten Ngawi menjadi salah satu daerah penghasil gabah terbesar secara nasional yang berperan penting dalam mendukung program swasembada pangan. Dari total produksi Jawa Timur yang menyumbang sekitar 27 persen secara nasional, sekitar 10 persen berasal dari Kabupaten Ngawi.
Selain menjaga harga, Bulog juga terus meningkatkan serapan gabah sebagai bagian dari strategi penguatan cadangan pangan nasional. Saat ini, stok beras di gudang Bulog tercatat mencapai sekitar 4,4 juta ton, yang dinilai dalam kondisi aman.
“Target penyerapan tahun ini mencapai 4 juta ton setara beras secara nasional sesuai arahan Presiden,” tambahnya.
Baca Juga : Perum Bulog Targetkan Serap 4 Juta Ton Setara Beras dari Gabah Petani
Ke depan, Bulog juga berencana menambah sekitar 100 gudang baru di berbagai wilayah Indonesia guna memperkuat kapasitas penyimpanan cadangan pangan. Selain itu, serapan komoditas jagung dari petani juga akan terus ditingkatkan sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan nasional.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap stabilitas pangan dapat terus terjaga, sekaligus memberikan kepastian bagi petani dalam menjual hasil panennya.
Editor : JTV Madiun



















