Diabetes melitus dan hipertensi dulu dikenal sebagai "penyakit orang tua". Namun belakangan, dua penyakit tidak menular ini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia muda, bahkan pada mereka yang berusia di bawah 35 tahun. Tren minuman kekinian yang serba manis, ditambah gaya hidup yang minim gerak, disebut jadi dua faktor utama di balik pergeseran ini.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes pada penduduk usia 15 tahun ke atas di Indonesia mencapai 11,7 persen. Sementara itu, data Riskesdas 2018 mencatat prevalensi hipertensi pada penduduk dewasa Indonesia berada di kisaran 34,1 persen. Yang jadi perhatian, sejumlah tenaga kesehatan menyebut tren kenaikan kasus pada usia muda ini berjalan beriringan dengan tingginya konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan di tengah masyarakat perkotaan.
Dokter spesialis penyakit dalam di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta bahkan menyebut, dulu kelompok usia muda dianggap relatif aman dari diabetes maupun hipertensi, namun kini pasien di bawah usia 35 tahun sudah cukup banyak ditemukan. Di sejumlah daerah, dinas kesehatan juga mulai mengingatkan agar masyarakat usia produktif dan remaja mewaspadai gaya hidup mereka sehari-hari.
Gula Tersembunyi di Minuman Kekinian
Baca Juga : Blefaroplasti: Ketika Operasi Kelopak Mata Bukan Sekadar Soal Kecantikan
Minuman seperti kopi susu gula aren, teh kekinian, boba, hingga minuman rasa buah kemasan memang terasa menyegarkan, tetapi kerap menyimpan kadar gula yang jauh lebih tinggi dari perkiraan. Gula tidak hanya berasal dari gula pasir yang ditambahkan langsung, tetapi juga bisa tersembunyi dalam sirup, krimer manis, susu kental manis, topping, hingga saus karamel.
Konsumsi gula berlebih secara terus-menerus dapat memicu resistensi insulin, yang menjadi salah satu jalur utama menuju diabetes melitus tipe 2, sekaligus berkontribusi pada risiko obesitas, hipertensi, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal.
Selain pola makan, gaya hidup kurang bergerak atau sedentary lifestyle turut memperburuk kondisi ini. Kebiasaan duduk dalam waktu lama tanpa banyak aktivitas fisik membuat metabolisme tubuh melambat dan mempermudah penumpukan lemak. Ditambah dengan pola tidur larut malam dan stres yang berkepanjangan, kombinasi ini semakin mempercepat munculnya gangguan metabolik pada usia yang semestinya masih produktif dan bugar.
Baca Juga : Kapan Saya Harus Operasi Katarak?
Langkah Sederhana yang Bisa Dilakukan
Para tenaga kesehatan umumnya menyarankan agar minuman manis tidak dijadikan konsumsi harian, melainkan cukup sesekali dalam seminggu, dengan air putih tetap menjadi pilihan utama untuk kebutuhan cairan harian. Membiasakan diri lebih aktif bergerak, menjaga pola makan seimbang, serta memperhatikan waktu istirahat juga menjadi langkah yang disarankan untuk menekan risiko penyakit tidak menular ini sejak dini.
Mengingat diabetes dan hipertensi tidak selalu menimbulkan gejala di awal, pemeriksaan kesehatan berkala tetap dianjurkan bagi siapa saja, termasuk kelompok usia muda, untuk mendeteksi risiko lebih awal sebelum berkembang menjadi komplikasi yang lebih serius. (Naswa Thalita Zada)
Baca Juga : Melihat Dunia Lebih Indah Bersama RS Mata Masyarakat Jawa Timur
Editor : Iwan Iwe



















