PACITAN - Pemerintah Kabupaten Pacitan berencana memperluas skema tiket terusan wisata. Setelah sebelumnya direncanakan untuk Pantai Srau, Watukarung, dan Kasap, kini skema serupa juga disiapkan untuk tiga destinasi wisata di wilayah barat Pacitan, yakni Pantai Klayar, Karang Bolong, dan Ngiroboyo. Rencana ini menjadi upaya pemerintah daerah untuk mengintegrasikan pengelolaan destinasi wisata sekaligus mendorong pemerataan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata.
Kepala Bidang Pengembangan Pariwisata Disparbudpora Pacitan, Erwanto, menyampaikan bahwa rencana tiket terusan di tiga destinasi wisata wilayah barat tersebut masih dalam tahap pembahasan. "Skema ini diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antardestinasi sehingga kunjungan wisatawan tidak hanya terpusat pada satu objek wisata, "ujarnya.
Melalui sistem tiket terusan, wisatawan nantinya diharapkan dapat mengunjungi beberapa destinasi dengan satu tiket. "Namun, mekanisme penjualan, penetapan tarif, serta pembagian pendapatan masih perlu dibahas bersama para pengelola, "imbuhnya.
Sementara, Direktur BUMDes Subur Makmur selaku pengelola Pantai Ngiroboyo, Wildan Nur Swi Harmoko, menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, sistem tiket satu pintu berpotensi memberikan keuntungan bersama, terutama bagi destinasi yang selama ini memiliki jumlah kunjungan lebih rendah.
“Pada prinsipnya kami sepakat dan mendukung program ini. Kalau sistemnya satu pintu, harapannya bisa saling menguatkan. Jadi, tidak hanya satu destinasi yang diuntungkan, tetapi seluruh pantai yang tergabung dalam skema tersebut,” kata Wildan.
Ia menjelaskan, salah satu gagasan awal yang dibicarakan adalah mengakumulasi jumlah kunjungan dari ketiga destinasi, kemudian membagikan pendapatan berdasarkan kesepakatan bersama. Dengan begitu, destinasi yang jumlah pengunjungnya lebih sedikit tetap berpeluang memperoleh manfaat dari tingginya kunjungan ke pantai lain.
Dalam pembicaraan awal, muncul gambaran tarif tiket terusan sebesar Rp25 ribu untuk tiga destinasi tersebut. Rinciannya, Pantai Klayar Rp15 ribu, Pantai Karang Bolong Rp5 ribu, dan Pantai Ngiroboyo Rp5 ribu.
Wildan menegaskan, angka tersebut masih berupa usulan dan belum menjadi keputusan resmi. Menurutnya, penyesuaian tarif perlu dipertimbangkan agar wisatawan tidak merasa terbebani ketika mengunjungi tiga pantai sekaligus. “Kalau tarif masing-masing destinasi tetap seperti sekarang, totalnya bisa mencapai Rp30 ribu. Karena itu, dalam pembicaraan awal kami membayangkan tarif gabungan sekitar Rp25 ribu. Namun, ini masih perlu dibahas, termasuk bagaimana mekanisme pembagian hasilnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembagian pendapatan harus dirancang secara proporsional agar seluruh pengelola mendapatkan manfaat yang adil. Pembahasan lebih lanjut akan melibatkan pemerintah desa, BUMDes pengelola, dan Disparbudpora Pacitan.
Bagi pengelola Pantai Ngiroboyo, skema tiket terusan diharapkan tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga memperbaiki kesejahteraan tenaga pengelola. Wildan mengungkapkan, setelah pandemi Covid-19, jumlah kunjungan Pantai Ngiroboyo rata-rata sekitar 1.000 orang per bulan. Dengan tarif tiket Rp10 ribu per orang, pendapatan kotor dari tiket diperkirakan mencapai Rp10 juta setiap bulan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen dialokasikan untuk tenaga pengelola. Dengan 10 orang yang terlibat, bagian pendapatan itu jika dibagi rata hanya sekitar Rp500 ribu per orang per bulan. “Pendapatan Ngiroboyo saat ini memang belum cukup untuk menyejahterakan teman-teman pengelola. Harapan kami, kalau ada kolaborasi dengan pemerintah daerah, pendapatan bisa meningkat sehingga kesejahteraan pengelola juga lebih baik,” ungkapnya.
Selain peningkatan pendapatan, Wildan berharap kerja sama tersebut turut membuka peluang perbaikan infrastruktur jalan menuju Pantai Ngiroboyo. Ia menyoroti akses jalan sepanjang sekitar 3,1 kilometer dari pertigaan Kepuh menuju kawasan pantai yang dinilai penting untuk mendukung kenyamanan wisatawan.
Menurutnya, integrasi pengelolaan dengan pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat kontribusi Ngiroboyo terhadap sektor pariwisata dan pendapatan asli daerah (PAD), sekaligus mendorong perhatian lebih terhadap akses menuju destinasi. “Harapan kami bukan hanya soal pendapatan pengelola, tetapi juga ada perhatian terhadap infrastruktur jalan. Kalau Ngiroboyo ikut berkolaborasi dan berkontribusi terhadap PAD, mudah-mudahan akses menuju pantai juga mendapat perhatian,” katanya.
Rencana pengembangan tiket terusan ini masih memerlukan pembahasan teknis sebelum diterapkan. Pemerintah daerah bersama pengelola diharapkan dapat merumuskan skema yang menguntungkan wisatawan, mendorong pemerataan kunjungan, serta memberikan manfaat ekonomi bagi setiap destinasi yang terlibat. (Edwin Adji)
Editor : JTV Pacitan























