SURABAYA - Tim peneliti lintas perguruan tinggi dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), University of Sydney, dan Universitas Darussalam Gontor menyelenggarakan rangkaian kegiatan akademis bertajuk Sydney Research Week 2026 di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) UNESA pada 30 September hingga 2 Oktober 2026. Kegiatan kolaborasi internasional bertema "AI, Education and Democratic Citizenship: Teacher Education for Democratic Futures in South East Asia" yang didanai oleh Sydney Southeast Asia Centre (SSEAC) ini bertujuan untuk menguji serta mengeksplorasi literasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kritis sebagai kompetensi kewarganegaraan digital bagi calon pendidik. Penyelenggaraan yang terdiri atas 10 sesi Focus Group Discussion (FGD) dan talkshow interaktif ini melibatkan ratusan mahasiswa lintas program studi dari jenjang S1 hingga S3 guna memastikan kesiapan para calon guru dalam menyikapi integrasi teknologi digital di dunia pendidikan secara bijak.
Penggunaan teknologi kecerdasan buatan saat ini semakin mudah dijumpai di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi untuk membantu penyelesaian tugas-tugas akademik. Namun, para peneliti menilai bahwa kemahiran teknis dalam menggunakan aplikasi AI saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dalam mempertanyakan serta menyikapi informasi yang dihasilkan oleh teknologi tersebut.

Pelaksanaan Talkshow Empowering Future Educators Through AI di Gedung O1 lt.2 FIP UNESA (Dok : michellyo Ezra/Pluto_visual)
Guna menguraikan fakta utama dan dinamika pelaksanaan kegiatan kolaborasi internasional ini, berikut adalah lima fakta penting mengenai penyelenggaraan Sydney Research Week 2026 :
1. Sinergi Tiga Perguruan Tinggi dan Dukungan Dana Riset SSEAC
Kegiatan riset internasional ini lahir dari kolaborasi dosen dan peneliti tiga perguruan tinggi terkemuka, yaitu Universitas Negeri Surabaya, Universitas Darussalam Gontor, dan University of Sydney. Seluruh rangkaian riset dan forum diskusi mendapat dukungan pendanaan resmi dari lembaga Sydney Southeast Asia Centre (SSEAC). Kerja sama ini berfokus pada eksplorasi pandangan calon guru terhadap pemanfaatan AI dalam pendidikan, kompetensi kewarganegaraan, serta berbagai aspek kehidupan bermasyarakat di era digital.
2. Penyelenggaraan 10 Sesi FGD dan Talkshow Hybrid Lintas Jenjang
Rangkaian acara diawali dengan penyelenggaraan 10 sesi Focus Group Discussion (FGD) pada 30 September hingga 2 Oktober 2026 di lingkungan FIP UNESA yang diikuti mahasiswa dari beragam jurusan, seperti Teknologi Pendidikan, Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Khusus (PKh), dan Pendidikan Non-Formal (PNF). Diskusi kemudian dilanjutkan dengan talkshow bertajuk “Empowering Future Educators Through AI: Learn, Innovate, Inspire the Future” yang diselenggarakan secara hybrid di Gedung O1 Lantai 2 FIP UNESA dan melalui saluran Zoom Meeting. Diskusi terbuka ini melibatkan peserta dari jenjang S1, S2, hingga S3, baik kelas reguler maupun Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).
3. Peran Mahasiswa Sebagai Calon Pendidik dan Co-Analyst Data
Para peneliti menempatkan posisi mahasiswa sebagai fokus utama dalam riset ini karena mereka merupakan calon guru yang akan berhadapan langsung dengan dinamika pemanfaatan AI di sekolah. Dosen Teknologi Pendidikan UNESA sekaligus anggota tim peneliti, Irena Maureen, menegaskan bahwa mahasiswa diajak untuk mempelajari proses penelitian secara langsung serta berinteraksi secara aktif.
"Tentunya peran mahasiswa sangat penting, that's all we want to focus on, karena mereka adalah calon pendidik yang akan menghadapi perkembangan AI dalam praktik pendidikan. Selain ingin mengeksplorasi bagaimana AI dimanfaatkan, kami juga ingin memahami bagaimana mahasiswa memandang, mempertanyakan, dan menyikapi penggunaannya dalam konteks pendidikan dan lainnya," tegas Irena Maureen.
Irena juga menambahkan bahwa pengetahuan sejati tidak sekadar diperoleh dari jawaban serba cepat aplikasi AI, melainkan dari proses dialog dan pertukaran perspektif antarmanusia. Mahasiswa kelas 2023A Program Studi Teknologi Pendidikan UNESA bahkan dilibatkan langsung sebagai pengelola acara sekaligus melakukan co-analysis terhadap data hasil diskusi FGD.
4. AI Sebagai Alat Eksplorasi Ide, Bukan Otak Pengganti
Dalam ilmu Teknologi Pendidikan, fokus utama pembelajaran tidak hanya bertumpu pada pengembangan media teknis, melainkan pada perancangan pembelajaran yang tepat untuk memfasilitasi kebutuhan siswa. Ketua Pelaksana acara Sydney Research Week 2026, Calysta, menggarisbawahi pentingnya mempertahankan proses berpikir manusia di tengah maraknya penggunaan AI.
"Teknologi Pendidikan hadir untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja. Dalam hal ini, AI sepatutnya menjadi alat eksplorasi ide, bukan otak pengganti. Dalam Teknologi Pendidikan, proses masih relevan, meski maraknya kebutuhan akan solusi yang serba cepat. Menurutku, kita tak hanya berfokus pada hasil, tetapi juga memahami bagaimana proses belajar itu berlangsung," papar Calysta.
Pandangan senada disampaikan oleh mahasiswa S1 Sosiologi UNESA, Naufal, yang menjadi peserta aktif diskusi. Naufal menilai bahwa sebagian besar mahasiswa masih memandang AI generatif sebatas alat bantu praktis untuk menyelesaikan tugas kuliah. Melalui diskusi ini, para peserta menyadari pentingnya mengubah cara pandang agar AI dapat dimanfaatkan sebagai mitra diskusi, sarana pembanding gagasan, serta alat verifikasi fakta.
5. Kehadiran Pakar Internasional dan Pelibatan Kepanitiaan Mahasiswa
Penyelenggaraan acara akademis ini menghadirkan jajaran narasumber pakar dari dalam dan luar negeri, di antaranya Jia Ying Neoh dan Thomas Wilkins dari University of Sydney, Ahmad Syaifulloh dari Universitas Darussalam Gontor, serta Rojil Nugroho Bayu Aji dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UNESA. Bagi mahasiswa kelas 2023A Teknologi Pendidikan UNESA, kesempatan mengelola forum internasional ini menjadi pengalaman kepanitiaan akademis yang sangat berharga.
"Pastinya excited banget, apalagi ini bisa dibilang menjadi kepanitiaan akademis perdana kelas 2023A. Terlebih lagi, acara ini dihadiri oleh Jia Ying Neoh dan Thomas Wilkins dari University of Sydney, dan Ahmad Syaifulloh dari Universitas Darussalam Gontor, serta Rojil Nugroho Bayu Aji dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Negeri Surabaya, yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami," ungkap Calysta.
Setelah seluruh rangkaian sesi akademis resmi berakhir, kegiatan dilanjutkan dengan acara ramah tamah bertajuk Wrap Up Party: Pesta Jamu pada hari keempat. Selain menjadi sarana apresiasi dan penyegaran bagi mahasiswa pengelola yang tengah menempuh semester akhir, acara ini dimanfaatkan sebagai momentum perkenalan budaya tradisional Indonesia kepada para tamu peneliti mancanegara.
Penyelenggaraan Sydney Research Week 2026 diharapkan tidak berhenti sebatas pertukaran gagasan di dalam ruang diskusi. Tim peneliti berharap forum kecil ini mampu memicu perubahan nyata dalam praktik pendidikan digital serta membuka ruang dialog berkelanjutan mengenai isu-isu global di masa mendatang.
Penulis : Shofwah Khusniyah & Cahya Hafid Abdillah
Editor : Portal Jtv























