Profesi penguji analis laboratorium atau test engineer semakin menunjukkan peran penting dalam mendukung berbagai sektor industri di Indonesia, khususnya konstruksi dan manufaktur. Seiring berkembangnya pembangunan, kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang ini pun terus meningkat.
Dalam program “Ruang Karir” yang tayang di JTV pada Rabu (1/4/26), dua narasumber dari Laboratorium Kampuh Indonesia, Joana Patricia dan Dani Irawati, menjelaskan bahwa penguji analis laboratorium memiliki tugas utama melakukan pengujian terhadap material sebelum digunakan dalam suatu proyek.
“Penguji di laboratorium uji bahan bertugas melakukan berbagai pengujian seperti uji tarik, uji tekuk, uji kekerasan, hingga komposisi kimia. Semua dilakukan berdasarkan standar yang berlaku dengan alat yang sudah terkalibrasi,” jelas Joana.
Menurutnya, setiap material memiliki karakteristik berbeda, seperti baja karbon, stainless steel, maupun aluminium. Oleh karena itu, seorang test engineer dituntut untuk memahami berbagai standar pengujian, baik nasional maupun internasional seperti SNI, ASTM, dan ASME.
Baca Juga : Gresik Bidik Pertumbuhan Berkualitas 2026 Lewat Hilirisasi dan Investasi Industri
Profesi ini dinilai sangat krusial, terutama dalam sektor konstruksi. Sebelum material digunakan untuk pembangunan, seperti gedung atau infrastruktur, material tersebut harus melalui serangkaian pengujian untuk memastikan kualitas dan keamanannya. “Kalau di konstruksi, material itu wajib dites dulu sebelum dipakai. Ini penting untuk memastikan keamanan bangunan,” tambah Dani.
Meski terdengar teknis, peluang karir di bidang ini terbuka luas bagi lulusan teknik, seperti teknik sipil, teknik industri, teknik mesin, hingga metalurgi. Bahkan, menurut para narasumber, kebutuhan tenaga analis laboratorium tidak hanya terbatas di kota besar, tetapi juga tersebar di berbagai daerah.
Selain latar belakang pendidikan, sertifikasi menjadi syarat penting untuk menjadi seorang penguji laboratorium. Calon tenaga kerja biasanya harus mengikuti pelatihan khusus sebelum dapat melakukan pengujian secara profesional. “Walaupun sudah punya gelar teknik, tetap harus punya sertifikasi. Biasanya ada pelatihan sekitar satu bulan untuk memahami mesin dan standar pengujian,” ujar Dani.
Lebih lanjut, Joana menambahkan bahwa peluang karir di bidang ini sangat menjanjikan jika didukung dengan sertifikasi tambahan, seperti welding inspector atau pengujian non-destruktif (Non-Destructive Test/NDT). “Kalau punya sertifikasi tambahan, peluangnya lebih besar. Bisa berkembang menjadi supervisor laboratorium atau quality manager,” katanya.
Dalam praktiknya, alur kerja seorang penguji laboratorium dimulai dari penerimaan material dari klien, identifikasi jenis material, proses preparasi, hingga pengujian dan pembuatan laporan hasil uji. Proses ini menuntut ketelitian, integritas, serta profesionalisme tinggi.
Meski dari sisi finansial mungkin bukan prioritas utama, profesi ini menawarkan keunggulan dalam hal pengembangan ilmu dan pengalaman. Para penguji dituntut untuk terus belajar karena standar dan jenis material terus berkembang. “Ilmunya selalu update. Setiap hari kita belajar hal baru, jadi ini pekerjaan yang menantang,” ungkap Dani.
Bagi generasi muda yang tertarik, kunci utama untuk sukses di bidang ini adalah kemauan belajar, ketekunan, serta menjaga integritas dalam bekerja. Mengingat hasil pengujian berpengaruh pada keselamatan banyak orang, profesi ini juga memiliki tanggung jawab besar.
Dengan kebutuhan industri yang terus meningkat, profesi penguji analis laboratorium menjadi salah satu pilihan karir yang patut dipertimbangkan, khususnya bagi lulusan teknik yang ingin berkontribusi langsung pada kualitas dan keamanan pembangunan di Indonesia. (Amellia Ciello)
Editor : Iwan Iwe

















