JOMBANG - Perhelatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi dibuka di Lapangan Untung Suropati, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026). Forum musyawarah tertinggi yang dihadiri Prabowo Subianto beserta jajaran menteri dan ribuan muktamirin ini mengusung tema besar "Jalan Pulang NU ke Jamaah".
Tema tersebut menjadi sorotan utama dalam refleksi abad kedua NU, yakni upaya merekatkan kembali struktur organisasi (jam'iyyah) dengan jamaah, mulai dari isu pemberdayaan ekonomi, disrupsi digital, hingga kepemimpinan masa depan.
Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya sekaligus Pengurus MUI Jawa Timur, Prof. Dr. K.H. Ahmad Muhibbin Zuhri, M.Ag., menilai momentum muktamar di tanah kelahiran pendiri NU ini harus menjadi ruang muhasabah untuk memperkuat basis jemaah di tengah perubahan zaman yang cepat.
"NU ini memang organisasi berbasis jemaah, Islam Ahlussunnah wal Jama'ah. Memasuki abad kedua ini, sudah waktunya melakukan muhasabah untuk kembali menguatkan posisinya sebagai organisasi yang berbasis jemaah, kembali kepada umat," ujar Prof. Muhibbin.
Terkait kriteria kepemimpinan tertinggi PBNU ke depan, Prof. Muhibbin merujuk pada konsep Khittah NU yang dirumuskan K.H. Achmad Siddiq, di mana seorang pemimpin ulama harus memiliki tiga kompetensi utama: 'Alim (menguasai ilmu syariat), 'Abid (ahli ibadah dan spiritualitas), serta 'Arif (berwawasan luas dan bijaksana).
"Seorang yang arif itu harus memiliki wawasan yang luas. Tidak hanya ahli di bidang agama, tetapi menguasai ilmu politik, wawasan ekonomi sosial, dan jaringan internasional, sehingga di dalam mengambil kebijakan organisasi akan selalu relevan dan tidak mudah diintervensi," tegasnya.
Ia juga menggarisbawahi posisi politik NU agar tetap berada di jalur high politics (politik kebangsaan) sebagai sumber nilai moral, bukan terseret ke dalam politik praktis transaksional.
Di sisi lain, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat NU Jawa Timur, Dr. Lia Istifama, M.E.I., menekankan bahwa spirit "Jalan Pulang NU ke Jamaah" harus dirasakan nyata oleh generasi muda sebagai rumah bernaung di era kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital.
"Jangan sampai jalan pulang ke jemaah hanya dimaknai untuk jemaah seumuran kita, tetapi juga jemaah masa depan,anak-anak dan adik-adik kita. Bagaimana kita menciptakan sebuah sense of belonging bahwa NU adalah rumah kalian," ungkap Ning Lia.
Ning Lia menambahkan, Badan Otonom (Banom) perempuan seperti Fatayat dan Muslimat NU terus bergerak mengawal problem sosial di tingkat keluarga, mulai dari penguatan ketahanan keluarga, literasi digital anak, hingga pemberdayaan ekonomi mikro melalui jaringan majelis taklim.
Muktamar ke-35 NU di Jombang yang berlangsung hingga 31 Agustus 2026 ini akan melanjutkan agenda persidangan di enam komisi (Komisi A–F) Bahtsul Masail dan keorganisasian, sebelum memasuki puncak pemilihan Rais 'Aam melalui musyawarah Ahlul Halli wal 'Aqdi (AHWA) serta pemilihan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026–2031. (Adiybah Fawziyyah)
Editor : Iwan Iwe

















