YOGYAKARTA - Kepel atau burahol (Stelechocarpus burahol) merupakan tanaman buah khas yang telah lama melekat dengan budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Pohon ini bahkan ditetapkan sebagai flora identitas daerah, menandakan perannya yang penting dalam sejarah dan tradisi lokal, khususnya di lingkungan keraton.
Sejak dahulu, buah kepel dikenal dekat dengan kehidupan para putri bangsawan Jawa. Buah ini dipercaya mampu memberikan aroma harum alami pada tubuh, termasuk pada keringat dan napas, serta mengurangi bau menyengat pada air seni. Kepercayaan inilah yang membuat kepel dijuluki sebagai “parfum alami” di kalangan keraton. Di berbagai daerah, kepel juga dikenal dengan nama lain seperti burahol, cindul, kecindul, simpol, hingga turalak.

Buah kepel yang telah masak biasanya dikonsumsi langsung dalam kondisi segar. Daging buahnya berwarna jingga dengan kandungan sari yang cukup banyak, serta memiliki aroma khas yang sering digambarkan sebagai perpaduan wangi bunga mawar dan buah sawo. Aroma tersebut diyakini memengaruhi bau ekskresi tubuh setelah dikonsumsi.
Selain dimanfaatkan sebagai pangan, kepel juga memiliki nilai dalam pengobatan tradisional. Daging buahnya dipercaya bersifat diuretik atau peluruh kencing, membantu menjaga kesehatan ginjal, serta secara tradisional digunakan sebagai pengatur kelahiran alami bagi wanita bangsawan dengan efek sementara. Namun, pemanfaatan ini pada masa lalu umumnya terbatas di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
Tak hanya buahnya, pohon kepel juga bernilai dari sisi estetika dan kegunaan kayu. Daun mudanya tumbuh serempak dengan warna merah muda pucat, lalu berubah menjadi merah keunguan sebelum akhirnya menghijau cerah, menjadikannya menarik sebagai tanaman hias. Sementara itu, kayunya dikenal kuat dan tahan lama. Batang kepel yang lurus, setelah direndam dalam air selama beberapa bulan, kerap dimanfaatkan sebagai bahan bangunan dan disebut mampu bertahan puluhan tahun.
Dengan perpaduan nilai budaya, manfaat, dan keindahan bentuknya, kepel bukan sekadar tanaman buah, melainkan warisan hayati yang mencerminkan kearifan lokal Yogyakarta. (Prakerin-Mido)
Editor : JTV Malang



















