SURABAYA - Lontong balap menjadi salah satu kuliner legendaris khas Surabaya yang hingga kini masih eksis di tengah masyarakat. Meski namanya unik karena mengandung kata balap, makanan ini sama sekali tidak berkaitan dengan olahraga balap. Lantas, bagaimana asal-usul nama lontong balap?
Lontong balap diperkirakan sudah ada sejak awal abad ke-20. Dahulu, para penjual menjajakan dagangannya dengan cara dipikul sambil berjalan kaki dari kampung ke kampung. Mereka berangkat sejak pagi untuk mencari pembeli di pasar maupun kawasan permukiman.
Konon, kebiasaan para pedagang berjalan cepat muncul karena mereka berebut lokasi strategis di pasar agar dagangannya lebih dahulu dibeli pelanggan. Tak jarang, mereka saling mendahului ketika menuju tempat berjualan.
Tujuannya tak lain agar menjadi penjual pertama yang tiba dan memiliki peluang lebih besar mendapatkan pembeli. Dari kebiasaan saling "berlomba" inilah masyarakat kemudian mengenal kuliner tersebut dengan nama lontong balap.
Baca Juga : Filosofi Ketupat: Lebih dari Sekadar Hidangan Lebaran, Simbol Kesucian Hati
Isi lontong balap sendiri terdiri atas lontong, tauge rebus, tahu goreng, kuah gurih, sambal, kecap, serta pelengkap yang menjadi ciri khasnya, yakni lentho.
Lentho merupakan gorengan khas yang terbuat dari kacang tolo, atau pada beberapa resep dipadukan dengan singkong parut. Adonan tersebut dibumbui dengan berbagai rempah, kemudian digoreng hingga berwarna kecokelatan dan bercita rasa gurih. Kehadiran lentho menjadi pembeda utama lontong balap dengan sajian lontong lainnya.
Kini, menikmati lontong balap tidak lagi harus menunggu pedagang pikul melintas di depan rumah. Kuliner ini telah banyak dijual menggunakan gerobak, warung kaki lima, hingga rumah makan legendaris yang tersebar di berbagai sudut Surabaya.
Meski para penjualnya tak lagi "balapan" menuju tempat berjualan, nama lontong balap tetap melekat sebagai identitas kuliner khas Kota Pahlawan. Sejarah unik di balik penamaannya, dipadukan dengan cita rasa yang khas, menjadikan lontong balap sebagai salah satu hidangan yang wajib dicicipi saat berkunjung ke Surabaya.
Editor : Iwan Iwe



















