KABUPATEN MADIUN - Semangat menunaikan ibadah haji tak mengenal batas usia. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Sarmi, seorang nenek berusia 90 tahun asal Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, yang tahun ini akan berangkat ke Tanah Suci sebagai jemaah calon haji (JCH) tertua.
Di usianya yang telah memasuki masa senja, Sarmi tetap menunjukkan kondisi fisik yang mengagumkan. Penglihatannya masih tajam tanpa bantuan kacamata, bahkan ia masih mampu membaca buku panduan manasik serta doa-doa berhuruf hijaiyah dengan lancar.
Perempuan yang telah memiliki enam orang anak ini dijadwalkan berangkat pada musim haji 2026 melalui Kloter 24. Ia akan bertolak dari Pendopo Ronggo Djoemeno pada 27 April mendatang.
Perjalanan menuju Baitullah ini merupakan buah kesabaran panjang. Sarmi diketahui telah mendaftar haji sejak tahun 2020, dan akhirnya mendapat kesempatan berangkat lebih cepat melalui kebijakan kuota prioritas lansia dari pemerintah.
Baca Juga : Sebanyak 1310 Calon Jamaah HAji Banyuwangi Siap Berangkat ke Tanah Suci
Ia tidak berangkat sendiri. Putri bungsunya, Wiwik Hariningsih, turut mendampingi sebagai jemaah pendamping selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Meski sebelumnya sempat ditawari untuk berangkat umrah oleh anak-anaknya, Sarmi memilih menunggu kesempatan berhaji. Baginya, ibadah haji merupakan penyempurna rukun Islam yang ingin ia tunaikan secara utuh.
“Saya ingin berangkat haji, bukan umrah. Ini sudah niat dari dulu,” ujar Sarmi.
Baca Juga : Daftar Sejak Usia 5 Tahun, Nadien Syarifah Siap Berangkat Haji di Usia 18 Tahun
Hal yang paling mencuri perhatian dari sosok Sarmi adalah kondisi kesehatannya yang tetap prima di usia hampir satu abad. Ia masih aktif beraktivitas dan mampu menghafal berbagai doa yang akan dibaca selama pelaksanaan ibadah haji.
Sang putri, Wiwik Hariningsih, mengungkapkan bahwa rahasia kesehatan ibunya terletak pada pola hidup sederhana yang dijalani sejak muda.
“Ibu itu dari dulu terbiasa hidup sederhana, makan alami, dan tetap aktif. Itu mungkin yang membuat beliau tetap sehat sampai sekarang,” jelas Wiwik.
Baca Juga : Nabung Hasil Tani, Suratmi Jadi Jemaah Calon Haji Tertua Ngawi
Menariknya, dalam persiapan keberangkatan, keluarga juga menyiapkan “bekal khusus” berupa kopi giling dan kopi saset. Kebiasaan minum kopi manis setiap pagi disebut menjadi salah satu sumber semangat Sarmi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Beliau tidak pernah lepas dari kopi. Katanya itu yang bikin badan tetap segar,” tambahnya.
Kini, seluruh persiapan keberangkatan telah rampung. Mulai dari perlengkapan ibadah, pakaian, hingga kebutuhan pribadi telah tersusun rapi di dalam koper.
Baca Juga : Vaksinasi Polio Tahap Akhir, 454 Calon Haji Siap Berangkat 27 April
Kisah Sarmi tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Ia membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk memenuhi panggilan suci menuju Baitullah.
Editor : JTV Madiun



















