Kenaikan harga plastik sempat menghebohkan masyarakat akhir-akhir ini. Lonjakan ini menjadi dilema besar karena plastik sudah masuk dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari, terutama sebagai kemasan makanan dan alat makan. Sesuatu yang awalnya hadir untuk mempermudah hidup, kini justru menjadi ketergantungan yang sulit dilepaskan.
Sayangnya, plastik berbahan dasar sintetis ini membawa ancaman nyata. Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti BPA tidak hanya mengancam kesehatan konsumen, tetapi juga merusak lingkungan. Plastik sangat sulit terurai secara alami dan bisa bertahan utuh hingga berpuluh-puluh tahun. Akibatnya, sampah plastik terus menumpuk di permukaan tanah, lapisan bumi terdalam, hingga mencemari wilayah perairan.
Studi terkini menunjukkan ancaman yang lebih mengerikan: plastik tidak sekadar menumpuk, melainkan terfragmentasi menjadi partikel yang jauh lebih kecil akibat paparan suhu ekstrem. Partikel mikro dan nano ini dikenal sebagai "mikroplastik". Di wilayah perairan, mikroplastik dengan mudah tertelan oleh plankton dan ikan kecil, lalu terakumulasi pada ikan yang lebih besar. Ketika ikan tersebut dikonsumsi manusia, racunnya akan berpindah ke tubuh kita. Celakanya, membakar sampah plastik bukan menjadi solusi, karena aktivitas ini justru membuat butiran mikroplastik beterbangan di udara. Bahkan, laporan terbaru mengejutkan publik dengan temuan mikroplastik di dalam air hujan.
Ketika harga plastik sintetis melambung tinggi, masalah baru pun muncul. Biaya kemasan yang mahal memungkinkan kenaikan harga pangan. Tekanan ekonomi dan lingkungan inilah yang mendesak para peneliti serta pemangku kebijakan untuk segera menciptakan alternatif: plastik alami yang ramah lingkungan dan aman bagi manusia.
Alternatif dari Bahan Baku Alami
Saat ini, berbagai riset berhasil mengolah bahan baku alami menjadi material mirip plastik yang disebut bioplastik. Bahan-bahan ini sangat melimpah di sekitar kita, mulai dari pati singkong, pati garut, pati beras, pati jagung, hingga sumber karbohidrat lainnya. Melalui proses pemanasan (gelatinisasi) dan pendinginan, pati tersebut berubah wujud menjadi material elastis seperti plastik.
Bioplastik berbahan pati memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Negara kita yang subur kaya akan umbi-umbian dan biji-biji dengan harga yang relatif murah. Selain mudah terurai di alam, beberapa jenis bioplastik bahkan diklaim aman jika tertelan bersama makanan. Namun, bioplastik murni dari pati memiliki kelemahan pada sifat fisik dan mekanisnya yang cenderung rapuh. Oleh karena itu, diperlukan kombinasi bahan lain, seperti hidrokoloid yang berasal dari kekayaan laut kita.
Memanfaatkan Potensi Laut Indonesia
Sebagai negara maritim dan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia, Indonesia punya modal yang sangat kuat. Rumput laut menghasilkan komponen penting seperti karaginan dari jenis cottonii, agar dari Gracilaria, serta alginat dari spesies Sargassum. Selama ini, karaginan dan agar akrab digunakan sebagai pengental puding, permen, hingga cangkang kapsul vegan pengganti gelatin hewani.
Selain rumput laut, produk sampingan industri perikanan seperti sisik, kulit, dan tulang ikan juga menghasilkan gelatin dan kolagen. Selain untuk industri kosmetik dan farmasi, bahan-bahan ini terbukti mampu meniru fungsi plastik sintetis. Bioplastik dari produk laut ini telah diuji keandalannya dalam melindungi makanan serta kecepatan urainya di alam bebas.
Memang, bahan hidrokoloid laut ini memiliki tantangan tersendiri: produksinya masih terbatas dan harganya relatif mahal. Namun, tantangan ini bisa disiasati dengan cara mengombinasikan hidrokoloid laut dengan pati umbi-umbian. Kolaborasi dua bahan ini akan menghasilkan bioplastik berkualitas tinggi namun tetap ekonomis.
Kenaikan harga plastik sintetis saat ini tidak boleh hanya dilihat sebagai beban, melainkan sebagai peluang emas. Ini adalah momentum terbaik untuk meningkatkan skala produksi bioplastik lokal. Saatnya para peneliti, pelaku industri, dan pemerintah bersinergi untuk melakukan hilirisasi riset, agar produk bioplastik berbasis pertanian dan kelautan ini bisa segera diproduksi massal dan membebaskan kita dari ketergantungan plastik sintetis. (*)
Penulis:
Annur Ahadi Abdillah, Ph.D
Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga
Editor : M Fakhrurrozi



















