JEMBER - 
Jakarta - Ketua Umum Koalisi Pemuda Indonesia dan tokoh muda nasional Firman Firdhousi Soetanto, menyatakan dukungan agar Presiden RI ke-2 Soeharto dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Menurutnya, pandangan terhadap sosok Soeharto harus dilakukan secara jujur, obyektif, dan berimbang, tanpa terjebak dalam dikotomi hitam-putih sejarah.
Firman yang juga merupakan alumni Pesantren Tebuireng tahun 2004 ini mengutip pandangan sejarawan Australia, Prof. M.C. Ricklefs, dalam karya monumentalnya Sejarah Indonesia Modern.
“Ricklefs menulis, benarkah Soeharto anti-Islam seperti yang kerap dikemukakan dalam kajian politik Orde Baru, Faktanya, di masa pemerintahannya justru terjadi proses santrinisasi besar-besaran,” ujar Firman.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa banyak kebijakan Soeharto yang memberi dampak signifikan terhadap kemajuan bangsa, termasuk Instruksi Presiden (Inpres) terkait pembangunan sekolah-sekolah di berbagai daerah.
“Penelitian terhadap program Inpres tersebut bahkan memperoleh Hadiah Nobel di bidang ekonomi, karena dianggap berpengaruh besar terhadap pembangunan sumber daya manusia dan pertumbuhan ekonomi. Ironisnya, pencetus kebijakan itu sendiri kini masih dianggap sebagai musuh bangsanya,” imbuhnya.

Firman menekankan perlunya pendekatan akademis dan kejujuran intelektual dalam membaca sejarah bangsa.
“Tidak ada pemimpin di negeri ini yang bebas dari kesalahan, bahkan yang fatal sekalipun. Namun, jasa dan perannya juga tidak bisa dinafikan. Soeharto bukan satu-satunya yang memiliki dosa, dan bukan pula satu-satunya yang berjasa. Semua pemimpin memiliki sisi yang seimbang jika kita letakkan di atas meja sejarah dengan penuh kebijaksanaan,” tegasnya.
Firman menutup dengan ajakan agar publik dan kalangan akademisi melihat sejarah secara utuh dan proporsional, bukan sekadar melalui kacamata politik atau sentimen masa lalu.
“Objektivitas sejarah adalah bagian dari kedewasaan bangsa dan itu sikap yang diajarkan oleh para leluhur-leluhur kita ,” pungkasnya.
Editor : JTV Jember



















