MAGETAN - Musim kemarau yang identik dengan cuaca panas dan kering ternyata membawa berkah bagi pengrajin batu bata di Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.
Terik matahari justru dimanfaatkan para pengrajin untuk mempercepat proses pengeringan batu bata. Kondisi cuaca yang mendukung membuat produksi dapat dilakukan lebih cepat, di tengah meningkatnya permintaan konsumen seiring maraknya pembangunan rumah.
Salah satunya dilakukan Sutrisno. Setiap hari, ia mengolah tanah liat menjadi batu bata dengan proses yang masih dilakukan secara manual. Tanah liat dicetak, kemudian disusun dan dijemur di bawah terik matahari.
Saat musim kemarau, batu bata yang telah dicetak dapat kering dalam waktu sekitar dua hari apabila cuaca mendukung. Proses pengeringan yang lebih cepat membuat Sutrisno bisa meningkatkan ritme produksinya.
Baca Juga : Gabah Tembus Rp9.100, Beras Lokal Ikut Terkerek
Dalam sehari, Sutrisno mampu menghasilkan sekitar 750 hingga 800 batu bata. Setelah jumlahnya mencapai sekitar 8.500 biji, batu bata tersebut kemudian dikumpulkan untuk menjalani proses pembakaran.
Meningkatnya permintaan juga turut mendorong kenaikan harga jual. Jika sebelumnya batu bata dijual sekitar Rp550 per biji, kini harganya mencapai Rp650 per biji. Bahkan, harga bisa berada di kisaran Rp800 hingga Rp900 per biji, tergantung jarak pengiriman.
“Sekarang pesanannya lumayan banyak. Kalau musim panas seperti ini, pengeringannya lebih cepat, jadi produksi juga bisa lebih banyak,” ujar Sutrisno, pengrajin batu bata asal Desa Tulung, Magetan.
Baca Juga : Harga Daging Ayam Potong Tembus Rp42 Ribu per Kilogram
Namun, kenaikan harga jual belum sepenuhnya membuat keuntungan meningkat. Sebab, biaya bahan baku juga mengalami kenaikan. Harga tanah liat yang sebelumnya sekitar Rp300 ribu untuk satu truk dam, kini naik menjadi sekitar Rp350 ribu.
Meski demikian, tingginya permintaan membuat usaha Sutrisno tetap berjalan. Selain memenuhi kebutuhan pasar di wilayah Magetan, batu bata produksinya juga dikirim ke sejumlah daerah lain, seperti Madiun hingga Ponorogo.
Bagi Sutrisno, musim kemarau bukan sekadar cuaca panas yang harus dilewati. Terik matahari justru menjadi bagian penting dalam proses produksi dan membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan.
Baca Juga : Harga Daging Ayam di Pasar Besar Madiun Tembus Rp42 Ribu per Kilogram
Dari tanah liat yang dicetak dengan tangan, dikeringkan di bawah matahari, kemudian dibakar, batu bata tersebut akhirnya menjadi salah satu bahan penting dalam pembangunan rumah.
Musim kemarau pun menjadi bukti bahwa di tengah kondisi yang bagi sebagian orang terasa menyulitkan, tetap ada peluang ekonomi yang bisa dimanfaatkan.



















