TRENGGALEK - Kebijakan penataan tenaga non-Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur mulai dirasakan dampaknya di sekolah-sekolah. Di SMA Negeri 1 Karangan, Kabupaten Trenggalek, sebanyak lima Guru Tidak Tetap (GTT) dipastikan tidak lagi mengajar mulai Januari 2026.
Kepala SMAN 1 Karangan, Agus Joko Santoso, menegaskan kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari surat resmi Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur tertanggal 26 September 2025. Ia menyatakan istilah "dirumahkan" kurang tepat, karena sekolah hanya menjalankan ketentuan aturan.
"Sesuai surat tersebut, pemerintah provinsi tengah memproses guru yang diusulkan sebagai tenaga paruh waktu. Sedangkan GTT yang tidak masuk usulan hanya diperbolehkan bekerja sampai Desember 2025," jelas Agus, Jumat (12/1).
Mulai Januari 2026, sekolah tidak lagi diizinkan memiliki GTT maupun tenaga non-ASN lainnya. Di SMAN 1 Karangan, terdapat lima GTT dari mata pelajaran PPKN, Geografi, Bahasa Inggris, dan Sejarah yang tidak masuk dalam usulan tersebut. Kebijakan ini juga berdampak pada pegawai Tata Usaha non-ASN.
Baca Juga : Pacitan Ikut Sumbang Kenaikan Ekosistem Mangrove Jatim 13,29 Persen dalam Empat Tahun Terakhir
Sebelumnya, perekrutan GTT dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jam pembelajaran. Pihak sekolah menilai, jika hanya mengandalkan guru ASN, beban mengajar bisa mencapai 40 jam per minggu.
Saat ini, untuk menutup kekurangan guru, sekolah menyesuaikan dengan regulasi baru. Salah satunya dengan memberikan tugas kepada guru untuk mengajar lebih dari satu mata pelajaran sesuai kebutuhan. Dampaknya, jam mengajar sebagian guru meningkat hingga mendekati 30 jam per minggu atau lebih.
Pihak sekolah telah mengusulkan tiga dari lima GTT untuk mengikuti mekanisme uji kompetensi yang akan dilaksanakan pemerintah provinsi. Sekolah menyatakan masih terus menjalin komunikasi dengan para GTT sembari menunggu tindak lanjut resmi.
Baca Juga : JTV Raih Penghargaan Pemprov Jatim atas Peran Strategis Kampanye Mangrove
"Kami berharap pemerintah provinsi dapat memberikan solusi terbaik. Terlebih, dalam waktu dekat sejumlah guru di sini akan memasuki masa pensiun. Sehingga kebutuhan tenaga pendidik diperkirakan akan kembali meningkat," pungkas Agus. (Moch. Herlambang)
Editor : JTV Kediri



















