LUMAJANG - Sejumlah siswa sekolah dasar di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, harus bertaruh nyawa demi tetap bisa bersekolah. Pada Senin (12/1/2026) pagi, para siswa terpaksa digendong orang tua maupun relawan saat menyeberangi derasnya aliran lahar dingin Gunung Semeru.
Kondisi memprihatinkan ini terjadi akibat banjir lahar dingin yang kembali memutus akses jalan menuju dusun tersebut. Jembatan darurat yang sebelumnya dibangun secara swadaya oleh warga kembali hancur diterjang banjir lahar pada Minggu (11/1/2026) sore. Sementara itu, jembatan limpasan permanen yang menjadi urat nadi mobilitas warga telah lama rusak sejak Desember lalu dan hingga kini belum diperbaiki.
Para siswa harus digendong erat di pundak orang tua saat melintasi Sungai Regoyo, jalur utama aliran lahar Gunung Semeru. Arus sungai yang deras disertai material pasir dan batu membuat penyeberangan menjadi sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak.
Bagi warga, menyeberangi sungai lahar merupakan satu-satunya pilihan. Tidak adanya akses alternatif memaksa mereka mempertaruhkan keselamatan agar anak-anak tetap bisa mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
"Sebenarnya ndredeg. Tapi bagaimana lagi. Kalau tidak menyeberang, anak-anak tidak bisa sekolah. Jalannya sudah putus semua,” ujar Romlah, salah satu orang tua siswa.
Sebagian besar anak-anak tersebut merupakan siswa SD Negeri Jugosari 03 yang lokasi sekolahnya berada di seberang sungai. Guru SDN Jugosari 03, Eri Eliawati, mengatakan terdapat 37 siswa yang berasal dari Dusun Sumberlangsep.
"Dari jumlah tersebut, delapan siswa telah pindah dan menetap di desa lain sehingga tidak perlu menyeberangi sungai. Sementara dari 25 siswa yang masih tinggal di Dusun Sumberlangsep, hanya lima siswa yang nekat menyeberang untuk mengikuti kegiatan belajar di sekolah hari ini," terang Eri.
Pihak sekolah memahami kondisi darurat yang dihadapi para siswa dan tidak memaksakan kehadiran di kelas.
“Kami melaksanakan pembelajaran secara daring bagi siswa yang masih terjebak di wilayah terisolir untuk menghindari risiko keselamatan, terutama bagi siswa yang harus menyeberangi aliran sungai lahar,” ujar Eri.
Warga berharap pemerintah segera membangun jembatan gantung permanen di wilayah tersebut. Mereka tidak ingin akses pendidikan anak-anak terus terputus setiap kali Gunung Semeru memuntahkan lahar dingin yang merusak infrastruktur penghubung desa. (*)
Editor : A. Ramadhan



















