PROBOLINGGO - Kabut tebal menyelimuti lautan pasir Gunung Bromo pada Senin (1/6/2026) dini hari.
Suhu udara yang hanya berkisar 7 hingga 9 derajat Celsius menusuk hingga ke tulang. Namun dinginnya malam tak menyurutkan langkah ribuan warga Hindu Suku Tengger untuk menjalankan ritual sakral Yadnya Kasada 1948 Saka, tradisi turun-temurun yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Di tengah remang cahaya obor dan lampu penerangan, ribuan warga dari kawasan Tengger di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang memadati Pura Luhur Poten di Dusun Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Mereka datang membawa ongkek, wadah berisi berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, padi, hingga ternak yang akan dipersembahkan sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
Suasana hening menyelimuti kawasan pura ketika puluhan dukun pandita memimpin doa. Asap dupa perlahan membubung, berpadu dengan kabut yang turun dari lereng gunung. Ribuan pasang tangan terkatup, mengikuti setiap doa yang dilantunkan.
Dukun Pandita Kecamatan Tosari, Agung Hudoyo, mengatakan Yadnya Kasada bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk rasa syukur sekaligus pengingat akan nilai pengorbanan yang diwariskan leluhur Tengger.
“Kasada adalah wujud syukur masyarakat Tengger atas berkah yang diberikan Tuhan. Melalui persembahan hasil bumi ini kami memohon keselamatan, kesejahteraan dan keseimbangan hidup,” ujar Agung.
Menurutnya, ritual tersebut berakar dari legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang memohon keturunan kepada Sang Hyang Widhi.
“Ketika doa mereka dikabulkan dan memiliki banyak anak, mereka diminta memenuhi janji untuk mempersembahkan anak bungsunya, Raden Kusuma, ke kawah Bromo. Dari peristiwa itulah tradisi Kasada terus dilaksanakan hingga sekarang,” tuturnya.
Pada perayaan tahun ini, tiga dukun pandita baru turut dikukuhkan. Dua berasal dari Kabupaten Probolinggo dan satu dari Kabupaten Pasuruan. Pengukuhan itu menjadi bagian penting dalam regenerasi pemimpin spiritual masyarakat Tengger.
Setelah seluruh rangkaian doa selesai, ribuan warga bergerak menuju bibir kawah Gunung Bromo. Di sinilah puncak ritual berlangsung. Satu per satu ongek berisi hasil bumi diangkat menuju kawah yang masih mengepulkan asap. Dalam balutan kabut tebal, warga melarungkan sesaji ke dalam perut gunung yang dipercaya sebagai tempat persembahan kepada Sang Pencipta.
Namun di balik kesakralan ritual itu, terselip pemandangan yang selalu menjadi perhatian setiap tahun.
Di dinding kawah yang curam dan berbahaya, puluhan pemarit sudah bersiaga sejak dini hari. Mereka berdiri di titik-titik sempit, berpegangan pada batu dan akar, menanti sesaji yang dilempar dari atas kawah.
Ketika sayuran, buah-buahan, uang, hingga ternak dilemparkan ke kawah, para pemarit bergerak cepat menangkapnya.
Mereka memanjat, berlari, bahkan bergelantungan di lereng terjal dengan jurang menganga di bawah kaki. Kepulan asap kawah dan medan berbatu tak membuat mereka mundur.

Bagi para pemarit, sesaji yang berhasil diperoleh dipercaya membawa keberkahan.
Salah seorang pemarit, Suweni, mengaku telah mengikuti tradisi berburu sesaji selama bertahun-tahun.
“Sudah sering ikut. Tidak takut karena kami percaya ini bagian dari mencari berkah. Yang penting tetap hati-hati,” katanya.
Menurut Suweni, hasil yang didapat setiap tahun berbeda-beda. Ada yang memperoleh sayuran, buah-buahan, uang tunai, hingga hewan ternak.
“Kalau beruntung bisa dapat ayam atau kambing. Ada juga yang dapat uang cukup banyak. Semua tergantung rezeki,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia mengaku telah memahami risiko yang dihadapi saat berada di lereng kawah.
“Memang berbahaya, tetapi kami sudah tahu medan di sini. Kami datang untuk mencari berkah dari Kasada,” imbuhnya.
Sementara itu, Bupati Probolinggo Mohammad Haris yang hadir dalam perayaan tersebut menyampaikan bahwa Yadnya Kasada merupakan kekayaan budaya yang harus terus dijaga bersama.
“Kasada adalah warisan budaya dan spiritual yang luar biasa. Tradisi ini tidak hanya menjadi identitas masyarakat Tengger, tetapi juga menjadi kebanggaan Kabupaten Probolinggo dan Indonesia,” kata Haris.
Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus mendukung pelestarian budaya Tengger sekaligus menjaga kawasan Bromo sebagai destinasi wisata budaya dan religi dunia.
“Kita ingin generasi muda tetap mengenal dan melestarikan tradisi ini. Nilai gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan kepada leluhur harus terus diwariskan,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, sebanyak 10 tokoh juga dikukuhkan sebagai warga kehormatan Suku Tengger sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka terhadap pelestarian budaya masyarakat Tengger.
Menjelang pagi, kabut perlahan mulai menipis. Ritual telah usai, tetapi jejak spiritualnya masih terasa kuat di kawasan Bromo.
Di satu sisi, warga Tengger menunaikan doa dan persembahan dengan khusyuk. Di sisi lain, para pemarit mempertaruhkan nyawa di tebing kawah demi menangkap sesaji yang diyakini membawa keberkahan.
Di antara kabut, dinginnya udara pegunungan, dan kawah Bromo yang terus membara, Yadnya Kasada kembali menjadi pengingat bahwa tradisi, keyakinan, dan pengorbanan tetap hidup di tanah Tengger hingga hari ini. (*)
Editor : M Fakhrurrozi

















