NGAWI - Krisis air bersih akibat dampak kekeringan di Kabupaten Ngawi semakin meluas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi mencatat, jumlah dusun yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih bertambah dari sebelumnya sembilan dusun menjadi 11 dusun.
Kepala Pelaksana BPBD Ngawi, Prila Yuda Putra, mengatakan total warga terdampak kekeringan saat ini telah mencapai 563 kepala keluarga. Warga di sejumlah wilayah tersebut kini masih mengandalkan bantuan distribusi air bersih atau dropping.
Dua wilayah yang dilaporkan menjadi tambahan daerah terdampak adalah Dusun Pakolan, Desa Rejuno, Kecamatan Karangjati, serta Dusun Blandongan di wilayah Kecamatan Ngawi.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Ngawi bersama sejumlah instansi terus melakukan distribusi air bersih. Penyaluran bantuan dilakukan bersama PMI, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), serta organisasi kemasyarakatan Kagama.
Setiap hari, sekitar empat tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan.
Sejak 2 Agustus hingga saat ini, BPBD bersama instansi terkait telah menyalurkan lebih dari 50 tangki air bersih kepada masyarakat.
Selain melakukan dropping air, upaya penanganan jangka panjang juga dilakukan untuk mengatasi krisis air bersih di wilayah rawan kekeringan. TNI memberikan bantuan pembangunan 56 sumur bor, sementara BNPB membantu pembangunan lima titik sumur di sejumlah kawasan yang berpotensi mengalami kekeringan.
Dengan adanya tambahan bantuan sumur tersebut, kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah rawan kekeringan diharapkan dapat lebih terjamin.
Editor : JTV Madiun



















