Menu
Pencarian

Jatim Siaga Kemarau Panjang, Konservasi Air Jadi Perhatian Bersama

Portaljtv.com - Senin, 20 April 2026 15:49
Jatim Siaga Kemarau Panjang, Konservasi Air Jadi Perhatian Bersama
Jatim Siaga Kemarau Panjang, Konservasi Air Jadi Perhatian Bersama

Jawa Timur diperkirakan akan menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering pada tahun 2026. Dalam program “Dialog Khusus” Spesial Hari Air Sedunia 2026 yang tayang di JTV pada Jumat (17/04/26) bertema Siaga Kemarau Panjang dan Tantangan Konservasi Sumber Daya Air di Jawa Timur, kondisi ini menjadi perhatian serius karena berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian, menurunnya debit sungai dan bendungan, hingga ancaman krisis air bersih bagi masyarakat.

Plt Kepala Dinas PU SDA Provinsi Jawa Timur, I Nyoman Gunadi, menegaskan bahwa, pengelolaan air saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Menurutnya, persoalan air bukan hanya kekurangan saat musim kemarau, tetapi juga kelebihan air saat musim hujan serta penurunan kualitas air.

“Kalau air terlalu banyak akan menjadi banjir, kalau terlalu sedikit semua orang akan berebut, dan kalau terlalu kotor kualitasnya menurun. Tantangan ke depan adalah bagaimana air tetap tersedia dan layak dimanfaatkan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemerintah terus menyiapkan berbagai langkah strategis, mulai dari percepatan rehabilitasi jaringan irigasi, normalisasi saluran, pemetaan wilayah rawan kekeringan, hingga penguatan koordinasi antarinstansi.

Baca Juga :   Pemprov Jatim-BNPB Antisipasi Musim Kemarau dan Petakan Risiko Kekeringan

Dari sisi akademisi, Kepala Laboratorium Teknologi Pengolahan Air Departemen Teknik Lingkungan ITS Surabaya, Adhi Yuniarto, menjelaskan bahwa, kemarau panjang berpotensi menurunkan debit sungai dan meningkatkan konsentrasi pencemar di badan air.

“Kalau debit sungai menurun sementara pencemarnya tetap, maka kualitas air akan semakin buruk. Ini tentu menyulitkan pengolahan air minum dan kebutuhan rumah tangga,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar mulai menerapkan penghematan air dari rumah tangga. Menurutnya, langkah sederhana seperti memperbaiki keran bocor, mengurangi durasi mandi, serta memanfaatkan ulang air bekas cucian tertentu bisa membantu menghadapi musim kemarau.

Selain persoalan kuantitas dan kualitas air, ancaman sampah plastik di sungai juga menjadi sorotan. Founder Sungai Watch, Kelly Bencheghib, menyampaikan bahwa pencemaran plastik telah menjadi masalah besar yang harus ditangani secara bersama.

“Polusi plastik telah menjadi masalah besar selama bertahun-tahun. Kita tidak bisa lagi berpaling dari masalah ini. Kita semua harus bekerja sama untuk melindungi sungai dan sumber air kita,” ujarnya.

Kelly menjelaskan, komunitas Sungai Watch selama ini fokus membersihkan sungai dari sampah plastik, memasang penghalang sampah di aliran sungai, serta membangun kesadaran publik agar sungai kembali menjadi sumber kehidupan masyarakat.

Ia menambahkan bahwa sampah plastik tidak hanya mencemari sungai, tetapi juga berkontribusi terhadap banjir dan mengotori sedikit cadangan air yang tersisa saat musim kemarau.

Sementara dari sektor industri, Sustainability Manager PT Suparma Tbk, Guritno Wirandoko, menegaskan bahwa dunia usaha juga harus turut andil dalam mengatasi permasalahan lingkungan. “Menjadi industri tidak hanya soal kuat secara ekonomi, tetapi juga harus hadir dengan inovasi teknologi dan memberi dampak baik bagi generasi berikutnya,” katanya.

Menurutnya, perusahaan telah memanfaatkan limbah produksi yang tidak dapat didaur ulang sebagai sumber energi alternatif. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus menekan timbulan limbah ke tempat pembuangan akhir.

Selain itu, perusahaan juga terlibat dalam kegiatan konservasi air melalui penanaman pohon di kawasan hulu dan pembersihan sungai secara berkala.

Forum tersebut menegaskan bahwa ancaman kemarau panjang bukan sekadar persoalan berkurangnya hujan, melainkan juga soal kesiapan infrastruktur, kualitas lingkungan, efisiensi penggunaan air, serta perubahan perilaku masyarakat.

Kolaborasi pemerintah, akademisi, industri, komunitas lingkungan, dan masyarakat menjadi kunci utama agar Jawa Timur mampu menghadapi musim kemarau 2026 tanpa dampak yang lebih besar. Dengan pengelolaan yang tepat dan kesadaran bersama, sumber daya air di Jawa Timur masih dapat dijaga untuk kebutuhan generasi mendatang. (Amellia Ciello)

Editor : Iwan Iwe





Berita Lain



Berlangganan Newsletter

Berlangganan untuk mendapatkan berita-berita menarik dari PortalJTV.Com.

    Cek di folder inbox atau folder spam. Berhenti berlangganan kapan saja.