PROBOLINGGO - Keriput di wajah nenek Suwarti tampak semakin jelas saat ia tersenyum menyambut tamu yang datang ke Muhammadiyah Panti Lansia Kota Probolinggo, Jumat (29/5/2026).
Di usianya yang menginjak 78 tahun, perempuan asal Kelurahan Kademangan, Kota Probolinggo itu masih terlihat hangat dan ramah meski menjalani hari tua jauh dari anak dan cucunya.
Momentum Hari Lanjut Usia Nasional 2026 yang bertepatan dengan suasana Idul Adha menjadi penghibur tersendiri bagi belasan penghuni panti. Mereka tampak bercanda, saling berbagi cerita, hingga tersenyum bahagia saat sejumlah tamu datang berkunjung.
Di teras kamar, Suwarti duduk pelan sambil dibantu petugas panti. Langkahnya memang sudah tak sekuat dulu. Namun semangat hidupnya masih terasa hangat.
“Alhamdulillah saya senang tinggal di sini. Banyak teman, bisa ngobrol setiap hari. Anak saya juga tetap komunikasi,” ujar Suwarti lirih.
Sudah tiga tahun Suwarti tinggal di panti lansia tersebut. Ia memiliki tiga anak laki-laki. Namun dua di antaranya telah meninggal dunia. Kini hanya anak keduanya yang masih hidup dan bekerja di sebuah perusahaan otomotif dengan jabatan cukup mapan.
Meski demikian, Suwarti memilih tinggal di panti dibanding menetap bersama anaknya. Bukan karena tak disayang keluarga, melainkan karena ia tak ingin merepotkan.
“Saya kasihan sama anak dan menantu. Saya sudah sulit jalan. Takut merepotkan mereka,” katanya sambil tersenyum tipis.
Walau jauh dari keluarga, hubungan mereka tetap terjalin baik. Bahkan bulan lalu cucunya datang menjenguk ke panti dan menghabiskan waktu bersama.
“Cucu saya kemarin ke sini. Saya senang sekali masih diperhatikan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Hari-hari Suwarti dihabiskan dengan kegiatan sederhana. Mulai salat berjamaah, mengikuti pengajian ringan, hingga bercengkerama dengan penghuni lain. Baginya, kebersamaan di masa senja menjadi obat paling ampuh mengusir kesepian.
"Paling kegiatan sehari-hari yang rutin ya salat berjamaah, dan paling ketawa bareng sama penghuni lain. Suami saya merupakan pensiunan pabrik gula, saat ini rumah di Kademangan saya jual tapi belum laku, "tutupnya.
Ketua Panti Lansia Muhammadiyah Kota Probolinggo, Sri Ratnaningsih mengatakan, para penghuni panti memiliki latar belakang berbeda-beda. Ada yang berasal dari keluarga kurang mampu, ada pula yang dititipkan keluarganya meski secara ekonomi tergolong cukup.
“Sekitar 40 persen penghuni di sini berbayar, sisanya merupakan lansia serahan dari dinas sosial dan juga lansia yang sudah tidak memiliki keluarga,” ujar Sri.
Menurutnya, sebagian besar penghuni sebenarnya masih memiliki anak maupun cucu. Namun berbagai faktor membuat mereka akhirnya memilih tinggal di panti agar mendapatkan pendampingan dan perawatan lebih baik.
“Yang penting bagi kami mereka merasa nyaman, tenang dan tetap bahagia menjalani masa tua. Sesekali penghuni panti jalan-jalan di pantai dekat-dekat sini, mereka tidak boleh terlalu capek, kan usia sudah lanjut, "katanya.
Sri menambahkan, para lansia di panti tetap menjalani aktivitas bersama setiap hari agar tidak merasa sendiri. Pendamping juga terus memberikan perhatian dan ruang untuk saling berinteraksi.
“Walaupun hidup jauh dari keluarga, mereka tetap punya semangat hidup. Bahkan setiap hari selalu mendoakan anak dan cucunya,” ucap Sri.
Di tengah keterbatasan usia dan fisik, senyum Suwarti seolah menjadi pengingat sederhana bahwa kebahagiaan tak selalu hadir dari kemewahan. Kadang, ditemani teman sebaya, perhatian kecil, dan kabar dari keluarga sudah cukup membuat hari-hari di masa senja terasa berarti. (*)
Editor : M Fakhrurrozi



















