KEDIRI - Harga cabai di pasaran sedang tidak bersahabat. Setelah meroket tajam saat Ramadan dan Lebaran, kini harga komoditas pedas itu ambrol. Namun di tengah situasi itu, para petani cabai di Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, tetap memaksakan panen raya.
Bukan tanpa alasan. Di balik harga yang jatuh, ada ancaman lebih besar yang mengintai yakni hujan.
Supriyono, petani asal Desa Tanjung, Kecamatan Pagu, adalah salah satu yang tengah sibuk memetik cabai di lahannya seluas seperempat hektar. Lahan itu setiap tahun ia tanami cabai. Kini, waktu panen tiba. Meski harga di tingkat petani sedang turun, ia tak berani menunda.
"Curah hujan di Kediri masih tinggi. Kalau tidak segera dipanen, tanaman cabai bisa membusuk," ujar Supriyono, Kamis (2/4/2026).
Saat ini, harga cabai di tingkat petani berada di kisaran Rp50 ribu hingga Rp55 ribu per kilogram. Angka ini memang jauh di bawah momen Ramadhan dan jelang Lebaran yang sempat menyentuh Rp70 ribu per kilogram di tingkat petani.
Meski demikian, Supriyono mengaku harga saat ini masih memberi keuntungan. "Harga segitu sudah bagus, petani masih untung," katanya.
Di pasaran, harga cabai rawit saat ini dibanderol Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Turun drastis dibandingkan saat puncak permintaan Lebaran yang tembus Rp100 ribu lebih per kilogram.
Dalam musim panen kali ini, Supriyono mengerahkan 10 tenaga pemetik. Mereka ditargetkan bisa merampungkan panen cabai dalam dua hari ke depan. Dengan kerja cepat ini, ia berharap hasil panen tak banyak yang rusak terkena guyuran hujan yang masih kerap melanda wilayah Kediri.
Meski harga tengah merosot, bagi petani seperti Supriyono, panen tetap harus jalan. Karena kerugian terbesar bukan karena harga rendah, melainkan saat hasil bumi justru membusuk di lahan. (Beny Kurniawan)
Editor : JTV Kediri
















