JEMBER - Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika membuat harga kedelai impor melonjak naik. Hal ini berdampak pada perajin tempe di Kabupaten Jember.
Biaya produksi yang terus naik membuat sejumlah perajin terpaksa mengurangi volume produksi. Salah satunya terjadi rumah produksi tempe milik Maryono di Kelurahan Tegal besar, Kecamatan Kaliwates, Jember.
Maryono mengatakan, kenaikan harga kedelai sudah terasa sejak akhir tahun lalu. Kenaikan tersebut berdampak langsung pada biaya produksi dan kemampuan usaha kecil. Akibatnya, jumlah produksi tempe terpaksa dikurangi secara signifikan.
Jika sebelumnya mampu mengolah hingga satu koma delapan kuintal kedelai per hari, kini produksi hanya mencapai satu kuintal.
Tak hanya mengurangi volume produksi, perajin juga melakukan efisiensi tenaga kerja. Sebagian proses produksi kini ditangani sendiri oleh pemilik usaha.
Maryono, menjelaskan bahwa harga kedelai di pasar saat ini tembus Rp 9.500 per kilogram. Kondisi ini jauh lebih tinggi dibandingkan harga normal sebelumnya, yang berada di kisaran Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram.
“Bahan baku tempe, kedelai, sekarang naik. Naiknya sudah mulai sebelum tahun baru. Sekarang harga kedelai per kilonya Rp9,500. Sebelumnya ada yang Rp9,000-8,500. Sekarang mentoknya Rp9,500. Lumayan mahal, gak kayak dulu,” jelasnya.
Meski biaya terus naik, perajin memilih tetap mempertahankan harga jual tempe. Langkah ini dilakukan demi menjaga daya beli konsumen.
Kenaikan harga kedelai yang belum menunjukkan tanda turun ini ditakutkan akan terus menekan keberlangsungan usaha perajin kecil. Perajin berharap adanya langkah stabilisasi harga agar produksi tempe tetap bertahan. (Renata)
Editor : M Fakhrurrozi



















