PONOROGO - Sejumlah mahasiswa menggelar aksi September Hitam di depan Gedung Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jumat (4/9/2026). Aksi tersebut digelar untuk mengingat sejumlah peristiwa pelanggaran hak asasi manusia (HAM), sekaligus menyoroti berbagai persoalan yang dinilai masih terjadi hingga saat ini.
Dalam aksinya, mahasiswa membawa poster dan foto sejumlah aktivis yang menjadi simbol perjuangan HAM, di antaranya Munir dan Widji Thukul. Mereka juga mengingat kembali Tragedi Trisakti serta kasus penghilangan paksa aktivis pada 1997-1998.
Tak hanya mengenang berbagai peristiwa masa lalu, mahasiswa juga mengaitkan isu HAM dengan persoalan yang dinilai masih terjadi di tengah masyarakat. Sejumlah isu yang disorot antara lain keresahan terkait penerapan sistem desil hingga aktivitas tambang di kawasan Telaga Ngebel.
Mahasiswa menilai berbagai persoalan tersebut menunjukkan masih perlunya keterlibatan publik dan pemerintah dalam memastikan hak-hak masyarakat terpenuhi. Khusus terkait aktivitas tambang di kawasan Ngebel, mereka menilai persoalan tersebut belum sepenuhnya tuntas.
“September Hitam bukan hanya untuk mengingat peristiwa pelanggaran HAM di masa lalu, tetapi juga menjadi momentum untuk melihat persoalan yang masih terjadi saat ini. Kami ingin pemerintah dan masyarakat ikut memberikan perhatian terhadap persoalan-persoalan tersebut,” ujar Ahmad Nizar, Koordinator Aksi.
Aksi berlangsung sekitar tiga jam. Selain menyampaikan orasi, mahasiswa juga menaburkan bunga di atas foto dan poster sebagai simbol penghormatan sekaligus pengingat terhadap para aktivis yang meninggal maupun hilang.
Melalui aksi tersebut, mahasiswa berharap pesan yang disampaikan tidak berhenti pada kegiatan demonstrasi semata. Mereka mendorong meningkatnya kesadaran publik serta adanya respons pemerintah terhadap berbagai persoalan yang mereka soroti, termasuk isu HAM, penerapan sistem desil, dan aktivitas tambang di kawasan Telaga Ngebel.
Editor : JTV Madiun

















